Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS) mendorong diversifikasi bahan baku guna mewujudkan kemandirian industri petrokimia nasional di tengah krisis energi global pada Selasa (5/5/2026). Langkah ini bertujuan menekan ketergantungan impor nafta yang saat ini masih mencapai angka 90 persen.
Ketergantungan tinggi pada impor mengakibatkan harga plastik di dalam negeri sangat rentan terhadap fluktuasi pasar internasional. Dilansir dari Money, sekitar 60 hingga 70 persen pasokan bahan baku industri petrokimia Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah.
Ketua Umum INAPLAS Suhat Miyarso menjelaskan bahwa krisis saat ini harus dimanfaatkan sebagai titik balik penguatan sektor hulu kimia. Ia menyoroti potensi pemanfaatan gas alam domestik yang melimpah sebagai alternatif bahan baku selain minyak bumi.
"Nah dengan adanya krisis ini kemungkinan bisa menjadi momentum yang paling bagus karena sebenarnya ini sudah kita dorong cukup lama. Kemudian yang kedua, kalau dari metanol sebenarnya gas alam kita juga cukup banyak. Apakah gas alam ini langsung jadi energi atau jadi petrokimia atau jadi pupuk" ujar Suhat Miyarso, Ketua Umum INAPLAS.
Suhat menambahkan bahwa senyawa etilena dan propilena dari nafta merupakan komponen krusial dalam produksi polietilena (PE) dan polipropilena (PP). Kenaikan harga material dasar tersebut telah berdampak pada pedagang di pasar tradisional seperti Pasar Pucang Anom, Surabaya.
Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono meminta pemerintah memperluas spektrum sumber bahan baku industri. Selain metanol, ia menyarankan penggunaan biofeedstock dan optimalisasi inovasi pada sektor hilir untuk menjaga keterjangkauan harga produk di masyarakat.
"Jadi mungkin inovasi dengan material-material yang dari recycle plastik kemudian dari penambahan filler atau mungkin inovasi-inovasi yang lain dengan mengurangi berat, ukuran, dan lain-lain sehingga harga yang sekarang ini berubah masih bisa terjangkau sesuai dengan kebutuhan kita tanpa mengurangi fungsi dari plastik itu sendiri" jelas Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Inaplas.
Inaplas juga mengusulkan pembangunan tiga kilang minyak baru dengan kapasitas produksi masing-masing mencapai 300.000 barrel per hari. Penambahan infrastruktur ini diproyeksikan mampu mencukupi kebutuhan nafta bagi dua fasilitas cracker petrokimia yang telah beroperasi saat ini.
"Dengan demikian maka nanti akan ada nafta yang bisa dipakai untuk dua cracker petrokimia yang sudah ada. Pada saat itu kita harapkan bahwa ketahanan industri petrokimia di dalam negeri bisa membaik jauh lebih baik daripada sekarang ini" pungkas Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Inaplas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor plastik dan barang dari plastik mencapai 949,2 juta dollar AS pada Januari 2026 dan 873,2 juta dollar AS pada Februari 2026. Angka ini menunjukkan kenaikan impor sebesar 6,79 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.