Indonesia dinilai masih terjebak dalam pola industrialisasi dangkal pada sektor pengolahan nikel meskipun arus investasi dan pembangunan smelter terus mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, sebagaimana dilansir dari Lestari.
Direktur Kolaborasi Internasional INDEF, Imaduddin Abdullah, mengungkapkan bahwa hilirisasi nikel saat ini masih didominasi oleh modal asing yang berfokus pada pembangunan infrastruktur pengolahan dan ekspor produk olahan tanpa dibarengi penguatan kapasitas industri nasional secara komprehensif.
Kritik tersebut disampaikan dalam webinar bertajuk Menggali Wawasan Tata Kelola Mineral Kritis di Indonesia: Progres dan Perspektif yang berlangsung pada Rabu, 6 Mei 2026.
"Tanpa itu, sebenarnya negara Selatan ini hanya mendapatkan lagu lama, enclave yang mungkin kami sebut green enclave, hijau dalam narasi, tetapi tetap enclave dalam hasil pembangunan," ujar Imaduddin Abdullah, Direktur Kolaborasi Internasional INDEF.
Imaduddin menekankan pentingnya transisi dari industrialisasi yang sekadar berbasis investasi menuju penguatan kemampuan industri domestik melalui skema capabilities capture yang mencakup riset, pengembangan, serta peningkatan kapasitas pemasok lokal.
Persoalan tenaga kerja juga menjadi sorotan tajam karena manfaat ekonomi makro dari hilirisasi dianggap belum menyentuh masyarakat di daerah penghasil mineral secara optimal akibat ketimpangan kualifikasi pendidikan.
"Kebutuhan tenaga kerja dengan pendidikan tinggi mencapai 72,3 persen, sementara yang tersedia hanya sekitar 12,74 persen," tutur Imaduddin Abdullah, Direktur Kolaborasi Internasional INDEF.
Kesenjangan kualifikasi tersebut menyebabkan efek limpahan ekonomi di daerah penghasil nikel tidak berjalan maksimal, sehingga banyak perusahaan lebih memilih mendatangkan pekerja dari luar daerah untuk memenuhi standar teknis industri modern.
INDEF mengidentifikasi sejumlah masalah kebijakan, mulai dari absennya target penyerapan tenaga kerja lokal berkualitas hingga belum adanya kewajiban alih teknologi bagi investor asing yang masuk ke sektor mineral kritis.
Lemahnya pengawasan terhadap perlindungan tenaga kerja di kawasan industri tertutup serta koordinasi antarlembaga yang berjalan masing-masing turut memperlambat terciptanya transformasi industri yang berkelanjutan di tanah air.