Indeks dolar AS mengalami penguatan sebesar 0,3 persen ke posisi 98,82 pada Kamis, 14 Mei 2026, setelah para pelaku pasar merespons positif data inflasi dan angka penjualan ritel Amerika Serikat. Kondisi ini memperkuat ekspektasi investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada akhir tahun ini di tengah kunjungan kenegaraan Presiden Donald Trump ke Tiongkok.
Data Biro Sensus AS mencatat penjualan ritel pada April naik 0,5 persen secara bulanan, yang meski melambat dari angka Maret sebesar 1,6 persen, tetap dianggap menunjukkan ketangguhan konsumen. Dilansir dari Investing.com melalui metrotvnews.com, penguatan mata uang Paman Sam ini juga didorong oleh tingginya imbal hasil obligasi AS serta memudarnya harapan pasar akan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Ekonom senior di Interactive Brokers, José Torres, memberikan catatan khusus mengenai perilaku belanja masyarakat Amerika Serikat yang tetap stabil meskipun menghadapi tekanan harga energi.
"Para pembeli mengabaikan harga bensin yang lebih tinggi. Penjualan ritel April meningkat untuk bulan ketiga berturut-turut, mencerminkan konsumen yang kuat yang tidak mengalami kesulitan dalam mengelola kenaikan biaya," kata ekonom senior di Interactive Brokers José Torres.
Di sisi lain, analisis terhadap data tersebut menunjukkan sisi yang berbeda jika disesuaikan dengan tingkat kenaikan harga secara umum. Kepala ekonom di RSM US, Joseph Brusuelas, memberikan peringatan melalui platform X terkait dampak inflasi terhadap angka penjualan nominal yang terlihat positif.
"Meskipun penjualan nominal terlihat bagus, kita harus menyesuaikannya dengan inflasi. Setelah itu, kenaikan 0,5 persen yang solid berubah menjadi penurunan 0,1 persen. Kelompok kontrol (mengalami penurunan) dari 0,5 menjadi 0,3 persen yang disesuaikan dengan inflasi. Pengeluaran di SPBU naik 2,8 persen," kata kepala ekonom di RSM US Joseph Brusuelas pada X.
Brusuelas juga menekankan kekuatan ekonomi saat ini, namun ia mengingatkan agar pertumbuhan tersebut tidak menjadi kemenangan yang sia-sia bagi keberlanjutan pasar.
"Intinya: konsumen & ekonomi dapat menerima pukulan seperti Mike Tyson. Keduanya dinamis dan tangguh. Tetapi mari kita pastikan ini tidak berubah menjadi kemenangan Pyrrhic," tambah Brusuelas.
Presiden Donald Trump saat ini tengah berada di Tiongkok untuk melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Xi Jinping guna membahas isu perdagangan, teknologi AI, dan konflik di Timur Tengah. Berdasarkan laporan Fox News, Trump menyebut bahwa Tiongkok memiliki peran penting karena merupakan importir utama minyak dari Iran, terutama terkait pembukaan Selat Hormuz.
"Dia berkata, 'Jika saya dapat membantu, saya ingin membantu,'" kata Trump.
Trump menjelaskan lebih lanjut bahwa ketertarikan Tiongkok untuk membantu sangat besar mengingat besarnya ketergantungan negara tersebut terhadap komoditas energi dari kawasan tersebut.
"siapa pun yang membeli minyak sebanyak itu jelas memiliki semacam hubungan dengan mereka," tambah Trump.
Trump juga mengonfirmasi keinginan Presiden Xi untuk menjaga stabilitas jalur distribusi energi internasional di tengah blokade yang terjadi sejak Februari.
"Dia berkata, ‘Saya ingin sekali membantu. Jika saya bisa membantu sekecil apa pun.’ Dia ingin melihat Selat Hormuz dibuka," kata Trump.
Sementara itu, mata uang dunia lainnya menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS, di mana poundsterling merosot 0,9 persen ke level USD1,3399 dan euro turun 0,4 persen ke posisi USD1,1670. Berdasarkan data fxhealer di TradingView, indeks dolar saat ini berada dalam fase pemulihan teknis jangka pendek dengan target resistansi selanjutnya pada level 98,98.