Indeks Global Hapus Sejumlah Saham Besar Indonesia Akibat Likuiditas

Indeks Global Hapus Sejumlah Saham Besar Indonesia Akibat Likuiditas

Sejumlah emiten berkapitalisasi besar asal Indonesia keluar dari konstituen indeks saham global utama, MSCI dan FTSE Russell, akibat tidak terpenuhinya kriteria bobot investasi dan likuiditas perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada Kamis (4/6/2026).

Penghapusan tersebut memicu kekhawatiran penurunan daya tarik pasar modal domestik bagi investor institusi asing, di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Indeks Harga Saham Gabungan juga tercatat mengalami penurunan lebih dari 30 persen sepanjang tahun berjalan, yang membuat posisi Indonesia sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara diambil alih oleh Singapura.

Partner Wealth Management SGMC Capital, Mohit Mirpuri, menilai pencoretan ini bukan disebabkan oleh masalah pertumbuhan ekonomi, melainkan pemenuhan standar bagi pemodal besar.

"Adapun pengumuman MSCI berkaitan dengan kendala likuiditas perdagangan yang timbul akibat batas minimum harga saham yang dapat diperdagangkan di BEI, sehingga tidak mencerminkan fundamental bisnis Perseroan," ujarnya Joel Ellis, Head of Investor Relations GoTo.

Penurunan posisi ini dipengaruhi oleh langkah Bursa Efek Indonesia yang memindahkan saham perusahaan teknologi tersebut ke Papan Pengembangan karena pertumbuhan rata-rata tahunan pendapatan bersihnya berada di bawah 20 persen akibat dekonsolidasi Tokopedia.

"Mengingat FTSE Global Equity Index Series saat ini belum mengakui papan pengembangan, dan memperhatikan kondisi perdagangan terkini di BEI, saham GoTo akan dikeluarkan dari indeks tersebut," ungkap Joel Ellis, Head of Investor Relations GoTo.

Pihak manajemen memastikan penyesuaian administratif ini tidak akan mengganggu kegiatan bisnis ataupun target keuangan yang telah ditetapkan perusahaan.

"Fundamental bisnis GoTo kuat dan Perseroan tetap fokus pada pertumbuhan yang disiplin dan menguntungkan, serta menciptakan nilai bagi seluruh pelanggan dan pemegang saham," tutup Joel Ellis, Head of Investor Relations GoTo.

Selain GoTo, FTSE Russell dalam pengumuman resminya juga mengeluarkan PT Trimegah Bangun Persada Tbk dari Mid Cap Index, serta PT BUMA International Grup Tbk dan PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk dari Micro Cap Index yang efektif berlaku mulai 22 Juni 2026.

“Efektif mulai 22 Juni 2026 karena sekuritas tersebut terdaftar di Papan Pengembangan Bursa Efek Indonesia, yang merupakan segmen pasar yang tidak memenuhi syarat untuk GEIS, dan sesuai dengan Perlakuan Indeks Indonesia untuk Tinjauan Indeks Juni 2026,” tulis FTSE Russell dalam pengumuman resmi yang dilansir Kompas.com.

Pencoretan ini diprediksi memicu aksi jual jangka pendek oleh dana pasif asing, meskipun nilai valuasi beberapa saham dinilai sudah berada di bawah harga wajarnya.

“Jadi otomatis dampaknya seperti ini misalnya karena kalau kita melihat secara teknikal masih terjadi tekanan jual. Sementara kalau GOTO kan sudah mendekati level Rp 50 (harga saham),” ujar Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Tekanan dari penyesuaian portofolio dana investasi asing diproyeksikan lebih memengaruhi volatilitas harga saham jangka pendek dibandingkan kondisi keuangan internal emiten.

“Sebenarnya itu sudah cukup undervalued, Tapi paling tidak memang tekanan jual sudah terjadi sebelumnya, jadi sudah ter-pricing. Itu standar bahwasanya passive fund untuk melakukan aksi jual,” paparnya Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Kondisi pasar saat ini membuat pemodal ritel disarankan untuk memantau pergerakan dana asing secara berkala sebelum mengambil keputusan investasi.

“Dampaknya valuasi jadi undervalued, tapi kalau secara fundamental sebenarnya tidak terlalu berpengaruh karena kinerja fundamental sangat ditentukan oleh sejauh mana emiten ini bisa menghasilkan pertumbuhan dari sisi kinerja penjualan, itu yang paling utama,” tukas Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Perusahaan-perusahaan yang terdampak masih berpeluang masuk kembali ke dalam indeks global apabila mampu memulihkan posisi ke papan utama dan memenuhi batas minimum saham publik.

“Kalau misalnya ini secara likuiditas, bukan GOTO saja, kalau sudah berada di kisaran level mendekati Rp 50 otomatis likuiditas memang relatif terbatas karena outflow sudah terjadi sebelumnya,” lanjutnya Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Pergerakan nilai saham untuk emiten yang berada di luar harga minimum diproyeksikan akan lebih fluktuatif selama masa transisi penyeimbangan indeks.

“Untuk yang NCKL harganya masih jauh di atas level Rp 50, jadi otomatis saya pikir NCKL itu lebih volatil efeknya. NCKL itu lebih volatil karena wajar saja outflow dana asing itu memicu volatilitas daripada NCKL,” kata Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Regulator pasar modal Indonesia sendiri telah merespons kekhawatiran pasar global dengan menaikkan ketentuan porsi saham publik minimal secara bertahap menjadi 20 persen.

“Menurut saya, semestinya downside risikonya terbatas. Tapi kalau misalkan untuk yang NCKL, because masih di atas level Rp 50, NCKL pun juga berpotensi masih volatil,” ungkap Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas.

Proses penyesuaian bobot saham ini diperkirakan oleh Citigroup berpotensi memicu aliran modal keluar dari pasar saham Indonesia dengan estimasi mencapai US$1,6 miliar hingga US$34,7 miar pada skenario terburuk.

Artikel terkait

Rekomendasi