Indeks Kompas100 Anjlok 32 Persen Akibat Volatilitas Pasar Saham

Indeks Kompas100 Anjlok 32 Persen Akibat Volatilitas Pasar Saham

Indeks Kompas100 mengalami penurunan kinerja yang cukup dalam di tengah meningkatnya volatilitas pasar saham dalam beberapa waktu terakhir, namun sejumlah saham di dalamnya dinilai tetap memiliki daya tarik bagi para investor.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga Jumat (29/5/2026) menunjukkan indeks Kompas100 telah terkoreksi sebesar 32,35% year to date (ytd) menuju level 807,375, sebagaimana dilansir dari Investasi. Penurunan ini tercatat lebih tajam dibandingkan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot 29,14% ytd ke level 6.127,381.

Karakteristik indeks yang berisi saham-saham likuid berkapitalisasi besar-menengah dan menjadi proxy arus dana institusi menjadi pemicu utama pelemahan ini, menurut Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan. Saham-saham tersebut cenderung dilepas lebih cepat oleh pasar saat terjadi gejolak, ditambah adanya dampak dari sentimen rebalancing MSCI, isu free float, transparansi kepemilikan saham, hingga aliran modal asing yang keluar.

"Jadi, tekanannya datang dari kombinasi pelemahan big caps, saham komoditas, grup konglomerasi, serta sentimen rebalancing indeks global," ujar Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama.

Ekky memperkirakan indeks Kompas100 memiliki peluang untuk rebound setelah tekanan dari sentimen global mereda dan investor kembali memperhatikan aspek fundamental perusahaan. Ia melihat perbankan besar, konsumer, poultry, telekomunikasi, serta logistik sebagai sektor-sektor potensial penopang indeks di masa depan, dengan saham-saham pilihan seperti BBCA, BMRI, BBRI, ICBP, INDF, KLBF, dan CPIN.

Konsentrasi bobot pada saham-saham yang sedang menjadi pusat tekanan pasar seperti BREN, TPIA, dan CUAN juga diidentifikasi sebagai penyebab besarnya tekanan pada indeks Kompas100 oleh Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi. Sebagian besar saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI pun diketahui berasal dari konstituen Kompas100.

"Kompas100 bisa kembali outperform dibandingkan IHSG ketika saham oversold (jenuh jual) mulai di-rerating dan rotasi ke aset berisiko dimulai," kata Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI).

Wafi memproyeksikan ruang pemulihan akan terbuka setelah proses rebalancing selesai serta adanya kepastian kebijakan fiskal dan stabilitas kurs rupiah. Sektor penopang masa depan diperkirakan datang dari perbankan besar, konsumer staples (INDF, ICBP, AMRT), komoditas (AADI, PTBA, ANTM), dan menara telekomunikasi (TOWR, TBIG).

"Hindari saham dengan isu high shareholder concentration (HSC) atau eksposur terhadap kebijakan ekspor lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI)," imbuh Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI).

Sebagai panduan investasi, Wafi merekomendasikan saham BBCA, BMRI, INDF, AADI, dan ANTM dengan target harga masing-masing Rp 10.500, Rp 5.800, Rp 6.500, Rp 9.850, dan Rp 3.880 per saham. Sementara itu, Ekky menyarankan pemantauan untuk saham BBCA (target Rp 7.700), PGAS (target Rp 2.250–Rp 2.350), CPIN (target Rp 5.050–Rp 5.250), TLKM (target Rp 3.600–Rp 3.650), serta ICBP dan KLBF sebagai pilihan defensif melalui strategi buy on weakness.

Artikel terkait

Rekomendasi