Indeks Nasdaq Melemah Akibat Penurunan Saham Teknologi dan Gejolak Minyak

Indeks Nasdaq Melemah Akibat Penurunan Saham Teknologi dan Gejolak Minyak

Indeks Nasdaq ditutup melemah sebesar 0,52 persen ke level 26.089,35 pada perdagangan Senin (18/5/2026) waktu setempat akibat penurunan tajam saham-saham sektor teknologi informasi.

Kondisi pasar saham Amerika Serikat bergerak bervariasi karena dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap tekanan inflasi global serta biaya pinjaman yang berpotensi bertahan lebih lama, sebagaimana dilansir dari Investasi.

Data awal menunjukkan indeks S&P 500 juga mengalami pelemahan tipis sebesar 0,07 persen ke posisi 7.403,60, sementara indeks Dow Jones Industrial Average justru berhasil menguat 0,33 persen hingga mencapai level 49.688,25.

Sektor teknologi informasi menjadi penekan utama pergerakan pasar saham, termasuk koreksi pada saham-saham semikonduktor setelah mengalami kenaikan panjang berbasis optimisme kecerdasan buatan.

Aksi ambil untung oleh para investor dinilai menjadi penyebab utama penurunan cepat yang terjadi pada sektor teknologi tersebut.

"Ada kekhawatiran atas reli yang terjadi dalam waktu singkat, sehingga muncul aksi ambil untung," kata Tim Ghriskey, Senior Portfolio Strategist Ingalls & Snyder.

Tekanan terhadap indeks pasar modal juga diperparah oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun yang mencatatkan level tertinggi sejak Februari 2025.

Kenaikan imbal hasil obligasi tersebut terjadi bersamaan dengan fluktuasi harga minyak mentah Amerika Serikat yang sempat melonjak lebih dari 3 persen sebelum akhirnya terpangkas pascapernyataan penundaan aksi militer ke Iran oleh Presiden Donald Trump.

Risiko geopolitik di jalur pasokan energi global dinilai berpotensi kuat memicu kenaikan inflasi yang berdampak negatif bagi pertumbuhan emiten teknologi dalam jangka panjang.

"Risiko blokade Selat Hormuz dapat mendorong inflasi lebih tinggi dan menjaga imbal hasil tetap tinggi. Ini negatif untuk saham jangka panjang, terutama teknologi," kata Burns McKinney, Portfolio Manager NFJ Investment Group.

Situasi ini memicu rotasi modal dari aset berisiko tinggi menuju sektor defensif, di mana sektor energi menjadi penguat terbesar di dalam indeks S&P 500.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin mencapai 37,8 persen hingga akhir tahun.

Investor saat ini sedang menantikan rilis laporan keuangan pekan ini dari perusahaan ritel Walmart serta raksasa teknologi Nvidia untuk mengukur kekuatan belanja konsumen dan permintaan cip kecerdasan buatan.

Di sisi korporasi, pergerakan saham diwarnai lonjakan nilai saham Dominion Energy setelah adanya rencana akuisisi dari NextEra Energy senilai 66,8 miliar dolar AS, serta anjloknya saham Regeneron Pharmaceuticals akibat kegagalan uji klinis obat kanker kulit.

Artikel terkait

Rekomendasi