Kondisi bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya eskalasi ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah.
Situasi tersebut berdampak langsung pada kenaikan harga minyak mentah global dan menciptakan kecemasan di kalangan pelaku pasar. Dilansir dari Suara, sentimen negatif ini menyeret indeks utama ke zona merah.
Data dari CNBC menunjukkan Indeks S&P 500 merosot 557,37 poin atau setara 1,13 persen ke level 48.941,90. Sementara itu, Nasdaq Composite mengalami koreksi sebesar 0,19 persen dan berakhir pada posisi 25.067,80.
Ketegangan meningkat setelah Uni Emirat Arab mengonfirmasi pencegatan sejumlah rudal yang datang dari arah Iran. Peristiwa ini menandai aktifnya kembali sistem peringatan rudal UEA untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata dengan AS dimulai.
Sektor energi bereaksi cepat terhadap kondisi keamanan tersebut. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melonjak 4,39 persen menjadi USD 106,42 per barel.
Lonjakan lebih tinggi terjadi pada minyak mentah Brent yang merangkak naik 5,8 persen ke level USD 114,44 per barel. Kenaikan ini juga dipengaruhi oleh laporan simpang siur mengenai dugaan serangan terhadap kapal perang AS di Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran mengklaim adanya serangan rudal ke kapal perang, namun Komando Pusat AS membantah hal tersebut. Pihak AS menegaskan tidak ada unit Angkatan Laut mereka yang terkena serangan.
Di tengah ketidakpastian ini, Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social mengumumkan inisiatif Proyek Kebebasan. Program ini dirancang untuk mengevakuasi kapal kargo dari negara non-konflik yang terjebak di Selat Hormuz.
"I telah menginstruksikan perwakilan saya untuk memberi tahu mereka bahwa kami akan melakukan upaya terbaik untuk mengeluarkan kapal dan awak mereka dengan selamat," tulis Trump.
Jay Hatfield, Pendiri dan CEO Infrastructure Capital Advisors, memberikan pandangan pesimis terkait durasi konflik. Ia menilai situasi ini tidak akan menemukan titik temu dalam waktu dekat.
"Kami tidak memperkirakan perang akan terselesaikan dengan cepat," ujar Hatfield.
Meskipun dibayangi risiko geopolitik, Hatfield masih melihat celah optimisme untuk jangka panjang. Ia memproyeksikan indeks S&P 500 masih memiliki peluang untuk menyentuh level 8.000 pada pengujung tahun.
Tekanan pasar semakin berat akibat ambruknya saham di sektor logistik. Kebijakan Amazon melalui GXO Logistics yang memperluas jaringan logistik mandiri menjadi pemicu utamanya.
Kabar tersebut membuat saham GXO jatuh hingga hampir 18 persen. Penurunan ini menjalar ke emiten logistik lainnya, di mana saham UPS terkoreksi sekitar 10 persen dan FedEx menyusut 9 persen.