Perdana Menteri Narendra Modi mengimbau seluruh warga India untuk menghentikan pembelian emas selama satu tahun akibat tekanan ekonomi dari konflik AS-Israel dengan Iran. Seruan tersebut disampaikan dalam pidatonya pada tanggal 10 Maret lalu.
"Demi kepentingan negara, kita harus memutuskan bahwa selama setahun, meskipun ada acara di rumah, kita tidak akan membeli perhiasan emas," ujar Narendra Modi, Perdana Menteri India.
Langkah ekstrem ini diambil guna menekan lonjakan biaya impor energi serta melindungi cadangan devisa yang kian tergerus, seperti dilansir dari Detik Finance yang mengutip BBC Indonesia. Berdasarkan data tahun fiskal terakhir yang berakhir 31 Maret, nilai impor logam mulia India menembus angka 72 miliar dolar AS atau setara Rp 1.267 triliun.
Logam mulia ini memiliki nilai kultural tinggi di India karena lazim menjadi hadiah pernikahan dan warisan turun-temurun. Kendati demikian, pembatasan konsumsi emas dinilai sebagai bentuk tanggung jawab nyata dari masyarakat.
"Patriotisme tidak hanya tentang kesiapan mengorbankan nyawa di perbatasan. Dalam situasi seperti ini, hal itu berarti hidup secara bertanggung jawab dan menjalankan kewajiban kita kepada negara dalam kehidupan sehari-hari," tambah Narendra Modi, Perdana Menteri India.
Tiga hari pascaseruan tersebut, pemerintah India menaikkan bea impor emas secara signifikan dari 6 persen menjadi 15 persen. Kebijakan ini memukul pasar emas terbesar kedua di dunia tersebut karena transaksi impornya menggunakan dolar AS.
Ketergantungan terhadap mata uang dolar AS untuk komoditas emas dan minyak memicu depresiasi mata uang rupee hingga 5 persen tahun ini. Pelemahan nilai tukar tersebut dikhawatirkan dapat meloloskan tekanan inflasi yang lebih besar di dalam negeri.
"Every year, 600 to 700 tons of gold is imported and export is very low, so this gold accumulates at home," ujar Sundaravalli Narayanaswami, Kepala India Gold Policy Centre di Indian Institute of Management Ahmedabad.
Narayanaswami juga mencatat bahwa pasokan logam mulia di India sangat rapuh karena lebih dari 90 persen kebutuhan nasional dipenuhi lewat jalur impor. Sementara itu, harga emas global sempat menembus rekor tertinggi di angka 5.000 dolar AS per ounce atau 28 gram pada Januari lalu.
Kebijakan pengetatan ini memicu gelombang kekhawatiran dari para pelaku usaha dan perajin perhiasan lokal. Pemerintah sebelumnya juga sempat menaikkan bea masuk dan menawarkan investasi alternatif non-fisik untuk meredam impor.
"Bagi sektor perhiasan, situasi ini lebih buruk dibandingkan masa pandemi Covid," ujar Sanjeev Agarwal, Perajin perhiasan berbasis di New Delhi.
Selain pembatasan emas, Perdana Menteri Modi menginstruksikan masyarakat untuk beralih ke transportasi umum, berbagi kendaraan, bekerja dari rumah, dan membatasi perjalanan luar negeri. Ibu rumah tangga diminta menghemat minyak goreng, sedangkan sektor pertanian didesak menekan pemakaian pupuk kimia.