Indonesia dan Belarus Sepakati Roadmap Kerja Sama Ekonomi Lima Tahun

Indonesia dan Belarus Sepakati Roadmap Kerja Sama Ekonomi Lima Tahun

Pemerintah Indonesia dan Belarus resmi menyepakati penyusunan roadmap kerja sama ekonomi periode 2026-2030. Langkah ini diambil untuk memperkuat hubungan dagang, investasi, industri, hingga teknologi antara kedua negara.

Kesepakatan strategis tersebut dicapai dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI-Belarus bidang perdagangan, ekonomi, dan teknik yang berlangsung di Minsk, Belarus. Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto bersama Wakil Perdana Menteri Belarus Viktor Karankevich, seperti dilansir dari Suara.

Airlangga Hartarto menyatakan bahwa roadmap ini akan berfungsi sebagai pedoman strategis. Dokumen ini ditujukan untuk memperluas kerja sama bilateral secara lebih terukur dan sistematis dalam lima tahun ke depan.

"Roadmap tersebut diharapkan menjadi dokumen sistematis dan terukur untuk mengembangkan berbagai kerja sama, serta diharapkan akan menjadi salah satu deliverables utama dalam kunjungan Presiden Republik Belarus ke Indonesia," ujar Airlangga.

Pemerintah Indonesia menilai Belarus memiliki posisi strategis dalam penguatan industri manufaktur, ketahanan pangan, hingga pengembangan teknologi industri. Implementasi perjanjian dagang Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia (Indonesia-EAEU FTA) diyakini akan membuka peluang investasi yang lebih luas.

"Indonesia memandang Belarus sebagai mitra strategis dalam penguatan kerja sama industri, ketahanan pangan, dan pengembangan manufaktur berbasis teknologi. Implementasi Indonesia-EAEU FTA diharapkan dapat membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas dan saling menguntungkan," jelas Airlangga.

Dalam pertemuan tersebut, pihak Belarus turut mengundang pelaku usaha asal Indonesia untuk meninjau langsung kemampuan industri pertanian, manufaktur, serta fasilitas industri mereka. Kedua negara kini tengah membahas peluang pengembangan joint assembly machinery di Indonesia.

Selain itu, Forum Bisnis Indonesia-Belarus juga direncanakan untuk digelar bersamaan dengan agenda kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia pada awal Juli 2026. Pemerintah Belarus menyatakan komitmen kuatnya untuk memperkuat hubungan ekonomi ini.

Wakil Perdana Menteri Belarus Viktor Karankevich menilai bahwa pembentukan Dewan Bisnis Indonesia-Belarus akan menjadi katalis penting. Hal ini diproyeksikan mampu meningkatkan hubungan bisnis, terutama setelah penandatanganan Indonesia-EAEU FTA yang kini memasuki tahap ratifikasi.

"Kami meyakini bahwa pertemuan ini akan mampu mengidentifikasi sejumlah kerja sama bilateral utama yang dapat diwujudkan dalam rencana kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia pada awal Juli 2026," ujar Viktor Karankevich.

Hubungan ekonomi RI-Belarus di sektor perdagangan dan investasi saat ini menunjukkan tren positif. Nilai perdagangan kedua negara tercatat melonjak sekitar 72,6 persen secara tahunan menjadi sekitar 221 juta dolar AS.

Indonesia membidik Belarus sebagai mitra potensial untuk diversifikasi pasar ekspor sekaligus penguatan industri nasional. Fokus utamanya mencakup sektor alat berat, pertanian, kendaraan komersial, pupuk, hingga industri kimia.

Pemerintah juga mendorong penguatan kolaborasi melalui skema joint venture, transfer teknologi, local assembly, serta peningkatan kapasitas industri nasional. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat modernisasi manufaktur di tanah air.

Sementara di sektor pangan dan pertanian, kedua negara membahas peluang mekanisasi serta pengembangan teknologi pertanian modern. Kolaborasi ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sektor agrikultur nasional.

Indonesia turut membuka peluang ekspor berbagai produk unggulan seperti karet, kopi, kakao, produk perikanan, serta produk manufaktur ke pasar Belarus dan kawasan Uni Ekonomi Eurasia. RI dan Belarus juga membahas penguatan kerja sama di bidang investasi, kesehatan, pendidikan, riset, budaya, olahraga, hingga pariwisata.

Artikel terkait

Rekomendasi