Indonesia mulai mengintegrasikan kekuatan hilirisasi nikel domestik dengan cadangan bijih nikel melimpah dari Filipina. Langkah ini bertujuan mempercepat pengembangan industri baterai dan mendukung transisi energi di tanah air.
Dilansir dari Ekonomi, kolaborasi strategis tersebut resmi dimulai melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada rangkaian KTT Asean pekan lalu. Kesepakatan dijalin antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa kerja sama ini menjadi landasan bagi pembentukan Indonesia-Philippines Nickel Corridor. Platform tersebut akan menghubungkan fasilitas smelter Indonesia dengan hulu tambang di Filipina.
"Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia," ujar Airlangga.Ketua Umum APNI, Nanan Soekarna, menyebut kedua negara kini memiliki posisi tawar yang semakin kuat di kancah global. Hal ini didorong oleh penguasaan kolektif atas sebagian besar cadangan nikel dunia untuk kebutuhan industri stainless steel dan kendaraan listrik.
"Kolaborasi ini adalah langkah strategis untuk menciptakan stabilitas supply chain, memperkuat hilirisasi, dan membangun standar ESG regional yang kredibel dan kompetitif," ujar Nanan.Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan pentingnya kerja sama bisnis ke bisnis (B2B) ini. Menurutnya, akumulasi cadangan nikel kedua negara mencapai lebih dari 60 persen dari total cadangan dunia.
"Kalau diakumulasikan, total cadangan nikel kita dan Filipina itu lebih dari 60% dari keseluruhan di dunia sehingga secara bisnis juga terbuka saja asalkan nilai ekonomisnya dipertimbangkan secara matang," kata Bahlil.Ketua Komite Tetap Kajian Hilirisasi dan Investasi Kadin Indonesia, Chandra Wahjudi, menilai kolaborasi ini akan meningkatkan daya tarik investasi. Stabilitas pasokan bahan baku menjadi faktor kunci bagi investor dalam menanamkan modal jangka panjang.
Data United States Geological Survey (USGS) 2026 menunjukkan dominasi kedua negara tersebut. Indonesia tercatat memiliki 44,5 persen cadangan nikel global atau 62 juta ton, sementara Filipina memiliki 3,4 persen atau 4,8 juta ton.
Berikut adalah peta kekuatan produksi dan cadangan nikel di berbagai negara berdasarkan data terbaru dari USGS.
| Negara | Produksi 2024 | Produksi 2025 (Est) | Cadangan | Porsi Cadangan |
|---|---|---|---|---|
| 2,31 juta ton | 2,6 juta ton | 62 juta ton | 44,3% | 354.000 ton |
| 270.000 ton | 4,8 juta ton | 3,4% | 98.000 ton | 45.000 ton |
| 25 juta ton | 17,9% | 67.500 ton | 70.000 ton | 16 juta ton |
| 11,4% | 205.000 ton | 200.000 ton | 8,3 juta ton | 5,9% |
| 116.000 ton | 140.000 ton | 7,1 juta ton | 5,1% | 115.000 ton |
| 120.000 ton | 4,4 juta ton | 3,1% | 125.000 ton | 140.000 ton |
| 2,2 juta ton | 1,6% | 7.490 ton | 10.000 ton | 340.000 ton |
| 0,2% | 308.000 ton | 290.000 ton | >9,1 juta ton | >6,5% |
Analisis Risiko dan Diversifikasi Bahan Baku
Direktur Eksekutif SUSTAIN, Tata Mustasya, berpendapat bahwa diversifikasi sumber bahan baku sangat krusial bagi Indonesia. Bergantung hanya pada pasokan domestik dinilai tidak ideal untuk memenuhi kebutuhan teknis industri baterai yang beragam.
"Memang tidak boleh tergantung kepada satu sumber bahan baku, termasuk domestik, tetapi harus dari beberapa sumber seperti Filipina," ujarnya.Namun, ekonom senior CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak, memberikan catatan kritis. Ia melihat kerja sama ini masih bersifat pragmatis untuk mengamankan kebutuhan operasional smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) di dalam negeri.
"Kerja sama saat ini masih sangat pragmatis sebagai upaya mengamankan pasokan untuk memenuhi kebutuhan nikel domestik, termasuk blending, khususnya bagi smelter HPAL yang kekurangan bahan baku untuk kebutuhan operasional," ujarnya.Ishak juga memperingatkan adanya risiko baru jika ketergantungan pada nikel Filipina meningkat. Perubahan kebijakan ekspor di negara tetangga tersebut sewaktu-waktu dapat mengancam keberlangsungan industri pengolahan nasional.
Statistik Ekspor Nikel Indonesia
Kinerja ekspor komoditas nikel Indonesia menunjukkan dinamika yang signifikan sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026 dengan nilai yang fluktuatif.
| Periode | Volume (Ribu Ton) | Nilai (US$ Juta) | Perubahan Nilai |
|---|---|---|---|
| Januari 2025 | 199,27 | 731,43 | - |
| Mei 2025 | 209,61 | 741,43 | 24,4% |
| Agustus 2025 | 221,48 | 889,12 | 11,3% |
| Desember 2025 | 243,54 | 1.275,99 | 29,9% |
| Januari 2026 | 195,29 | 1.038,89 | -18,6% |
Hilirisasi nasional juga diharapkan tidak hanya berhenti pada produk antara seperti MHP atau katoda. Penguatan peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dinilai perlu untuk memastikan terjadinya alih teknologi yang nyata.
"Keterlibatan Danantara perlu diikuti oleh kewajiban alih teknologi dari investor asing kepada Indonesia agar hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas produksi semata," kata Ishak.