Indonesia dan Filipina Bangun Koridor Nikel Perkuat Pasokan Global

Indonesia dan Filipina Bangun Koridor Nikel Perkuat Pasokan Global

Pemerintah Indonesia dan Filipina resmi menyepakati kerja sama strategis pengembangan industri nikel terintegrasi di sela rangkaian KTT AECC ke-27 di Cebu, Filipina, Kamis (7/5/2026). Kolaborasi ini mencakup pertukaran teknologi hilirisasi, pengembangan sumber daya manusia, serta stabilisasi perdagangan mineral global.

Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait pembangunan industri nikel strategis. Penandatanganan tersebut dilakukan dalam agenda Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable yang disaksikan oleh para menteri kedua negara.

Data United States Geological Survey (USGS) 2026 menunjukkan kekuatan gabungan kedua negara yang mendominasi 73,6 persen produksi nikel dunia sepanjang 2025. Dilansir dari Ekonomi, Indonesia berkontribusi sebesar 2,6 juta ton, sementara Filipina memasok 270.000 ton untuk pasar global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan landasan bagi terbentuknya poros produksi yang vital bagi dunia. Kerja sama ini menghubungkan keunggulan sektor hulu Filipina dengan infrastruktur hilir Indonesia.

"Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI.

Airlangga menambahkan bahwa integrasi ini akan mengubah posisi Filipina dari sekadar pengekspor bijih mentah menjadi bagian penting dari rantai nilai regional yang lebih tinggi. Di sisi lain, Indonesia mendapatkan kepastian pasokan untuk industri baja tahan karat dan baterai.

"Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi," kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI.

Selain produksi, cadangan nikel kedua negara juga sangat signifikan dengan total mencapai hampir 48 persen dari cadangan global. Indonesia memegang 62 juta ton cadangan, sedangkan Filipina memiliki 4,8 juta ton yang dapat digunakan untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik.

Data Cadangan dan Produksi Nikel 2025
NegaraProduksi (Ton)Pangsa Produksi (%)Cadangan (Ton)
Indonesia2.600.00066,7%62.000.000
Filipina270.0006,9%4.800.000
Total Gabungan2.870.00073,6%66.800.000

Investasi hilirisasi nikel di Indonesia sendiri diproyeksikan menyentuh angka 47,36 miliar dolar AS hingga tahun 2030. Sektor ini diharapkan mampu menyerap 180.600 tenaga kerja seiring dengan masifnya pembangunan smelter yang membutuhkan pasokan bijih stabil dari proses blending.

Artikel terkait

Rekomendasi