Indonesia Perluas Kerja Sama Strategis Energi dengan Rusia

Indonesia Perluas Kerja Sama Strategis Energi dengan Rusia

Pemerintah Indonesia memperluas kemitraan energi strategis dengan Rusia yang mencakup pengembangan kilang minyak, ladang migas, hingga penjajakan teknologi nuklir skala kecil dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 pada Kamis (14/5/2026).

Pertemuan yang berlangsung di Kazan, Rusia tersebut difokuskan untuk memperkuat kedaulatan energi nasional sekaligus mengakselerasi proses transisi menuju energi bersih, sebagaimana dilansir dari Money. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan energi domestik yang terus meningkat.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam dialog bilateral tersebut. Delegasi Indonesia menemui First Deputy Prime Minister Rusia Denis Manturov guna membahas sejumlah proyek infrastruktur vital.

"Kerja sama di sektor energi telah menghasilkan berbagai komitmen investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi dan kilang minyak, ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan, termasuk rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir small modular reactor," ujar Yuliot dalam sesi pleno SKB RI–Rusia di Kazan.

Agenda utama pembicaraan tersebut meliputi rencana pembelian minyak mentah dari Rusia serta kelanjutan proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban. Kedua negara juga mengeksplorasi penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai guna mendukung pasokan listrik jangka panjang.

Berdasarkan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, Indonesia memerlukan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 70 gigawatt (GW). Sektor energi baru terbarukan ditargetkan menyumbang 62 persen atau setara 40 GW dari total target penambahan tersebut.

"Untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, ditargetkan pembangunan dua unit dengan total kapasitas 500 MW," kata Yuliot.

Selain pembahasan mengenai listrik dan migas, forum ini juga menyentuh potensi hilirisasi mineral dan standardisasi industri. Pemerintah menilai Rusia sebagai mitra yang relevan untuk mengurangi ketergantungan pada impor energi melalui transfer teknologi dan investasi berkelanjutan.

Artikel terkait

Rekomendasi