Fluktuasi kurs rupiah saat ini memberikan tekanan berat bagi sektor industri kemasan domestik. Tantangan ini terutama dirasakan oleh para pelaku usaha yang mayoritas pasokan bahan bakunya masih bergantung pada jalur impor.
Dilansir dari Industri, Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF) Henky Wibawa menyampaikan bahwa material yang paling terdampak dari situasi mata uang ini adalah plastik dan metal aluminum.
"Tapi itu semuanya tergantung kepada stok, logistik dan elastisitas harga berkaitan dengan supply and demand (pasokan dan permintaan)," jelas Henky kepada Kontan, Senin (8/6/2026).
Henky mencontohkan situasi pada komoditas plastik polypropylene (PP) dan polyethylene (PE). Sekitar 50 persen dari total kebutuhan dalam negeri sebetulnya bisa dipenuhi melalui kapasitas produksi lokal oleh Chandra Asri.
Saat konflik di Timur Tengah pecah beberapa waktu lalu dan perusahaan tersebut menyatakan keadaan kahar atau force majeure, pasokan alternatif dari China ternyata masih berada dalam posisi yang cukup kuat.
Imbas dari kondisi tersebut membuat ketersediaan stok di pasar domestik menjadi menumpuk. Para produsen akhirnya terpaksa mengambil langkah penjualan dengan memberikan potongan harga agar barang tetap terserap.
Selama masa penurunan tersebut, harga jual komoditas plastik merosot sekitar 5 persen hingga 10 persen setiap jangka waktu tiga sampai empat hari. Para agen penjualan juga diharuskan untuk menyerap seluruh stok milik produsen.
"Kembali lagi, permintaan pasar FMCG dan ritel memang melemah, tapi kebutuhan dasar tetap ada tentunya dan membutuhkan kemasan," terang Henky.
Henky menilai para pelaku industri kini dituntut menerapkan strategi matang pada tiap transaksi demi menutup beban biaya operasional. Pengusaha disarankan memperkecil margin keuntungan demi menghindari risiko kerugian operasional.
Sejauh pengamatan IPF, belum ada pelaku usaha kemasan yang mengambil langkah pemutusan hubungan kerja (PHK) ataupun menghentikan total operasional pabrik. Meski demikian, rencana ekspansi investasi baru dipastikan tertunda.
Sektor ini dinilai perlu melahirkan inovasi baru untuk menjawab permintaan pasar. Langkah efisiensi biaya harus tetap dijalankan tanpa menurunkan fungsi utama dari kemasan itu sendiri.
IPF sendiri hingga kini masih terus aktif menginisiasi pelaksanaan berbagai seminar pada pameran industri, khususnya di kota Jakarta dan Surabaya. Kegiatan ini menjadi tolok ukur tingginya minat para pelaku usaha hilir.
"Antusiasme masih sangat besar, khususnya dari kalangan generasi muda dan yang bergerak di industri kecil UMKM," tandas dia.