Industri Kosmetik Indonesia Hadapi Tantangan Bahan Baku Impor

Industri Kosmetik Indonesia Hadapi Tantangan Bahan Baku Impor

Sektor kosmetik nasional sedang berupaya mengejar target nilai pasar yang diproyeksikan menembus angka US$10 miliar pada tahun 2026. Namun, dilansir dari Ekonomi, perjalanan menuju target tersebut terganjal oleh tingginya ketergantungan pada bahan baku luar negeri.

Hambatan nyata muncul dari tekanan geopolitik global yang memicu lonjakan harga dan ketidakpastian rantai pasok. Kementerian Perindustrian mencatat bahwa pasar kosmetik domestik sebenarnya memiliki performa yang solid dengan nilai mencapai US$9,74 miliar pada 2025.

Pertumbuhan tahunan industri ini diperkirakan tetap stabil pada kisaran 4,33 persen hingga 4,37 persen. Selain itu, sektor ini menunjukkan taji di pasar global dengan kenaikan nilai ekspor dari US$416,8 juta menjadi US$473,8 juta dalam setahun terakhir.

Berbagai riset internasional turut memproyeksikan potensi besar bagi Indonesia dengan rata-rata pertumbuhan di atas 5,5 persen dalam lima tahun ke depan. Ekspansi ini juga terlihat dari bertambahnya jumlah pemain industri yang kini mencapai 1.684 perusahaan.

Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan mayoritas pelaku usaha tersebut, yakni sekitar 85 persen, berada pada level industri kecil dan menengah (IKM). Meskipun prospeknya cerah, persoalan fundamental pada sisi hulu masih membayangi ekosistem ini.

Reni Yanita, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, mengungkapkan bahwa penguatan industri masih terhambat urusan material dasar. Menurut penjelasannya, mayoritas komponen produksi masih harus didatangkan dari luar negeri.

"Karena bahan baku kosmetik masih didominasi impor hingga sekitar 80 persen,"

ujar Reni di sela-sela agenda Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) ke-16. Hal senada diungkapkan oleh Ketua Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi), Sancoyo Antarikso, yang menyoroti keterbatasan teknologi di dalam negeri.

Sancoyo menjelaskan bahwa bahan dasar tertentu seperti sabun berbasis minyak sawit mentah (CPO) sudah bisa diproduksi lokal. Namun, bahan tambahan lainnya masih sulit diproduksi di Indonesia karena pertimbangan skala ekonomi yang belum mencukupi.

"Kalau kosmetik itu dalam satu SKU (Stock Keeping Unit), jumlah bahan bakunya bisa puluhan. Nah, puluhan itu kecil-kecil, kadang kalau mau bikin di sini (dalam negeri), agak nggak masuk skala ekonomisnya,"

sebut Sancoyo. Konflik di wilayah Timur Tengah semakin memperkeruh keadaan dengan menyebabkan penguatan dolar AS terhadap rupiah serta gangguan pengiriman barang internasional.

Selain material produk, kenaikan biaya juga menyasar komponen kemasan yang berbasis petrokimia. Sancoyo menambahkan bahwa mahalnya nilai tukar mata uang asing berdampak langsung pada biaya produksi secara keseluruhan.

Tekanan biaya produksi mulai dirasakan oleh konsumen akhir melalui penyesuaian harga di pasar. Ketua Umum Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika (PPAK) Indonesia, Solihin Sofian, menyebut kelangkaan bahan turunan minyak bumi menjadi pemicu utama.

Harga material kemasan plastik bahkan dilaporkan melonjak drastis hingga 100 persen dibandingkan periode sebelum konflik. Padahal, unsur kemasan ini memiliki porsi sekitar 25 persen dalam struktur total biaya produksi produk kosmetik.

Dampak paling signifikan dialami oleh produk yang menggunakan wadah plastik, seperti krim, losion, dan sampo. Di sisi lain, produk wewangian atau parfum cenderung lebih stabil karena mayoritas menggunakan botol berbahan kaca.

Bahan dasar kimia seperti propylene glycol dan white oil juga mengalami kenaikan harga di kisaran 42 persen hingga 47 persen. Solihin menyatakan bahwa situasi geopolitik ini memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kelangsungan usaha.

"Tentu (konflik geopolitik) dampaknya luar biasa besar, bukan hanya shortage saja, tapi juga kenaikan harga,"

kata Solihin pada Minggu, 10 Mei 2026. Kondisi stok bahan baku pun kian menipis, di mana industri besar hanya mampu bertahan sekitar enam bulan, sementara pelaku UMKM mungkin hanya hitungan minggu.

Solihin memperkirakan industri menengah hanya memiliki cadangan kemasan hingga akhir Mei 2026. Hal ini memaksa produsen menaikkan harga jual antara 9 persen hingga 21 persen demi menjaga margin keuntungan agar tetap bisa beroperasi.

Kebijakan menaikkan harga ini menyimpan risiko besar bagi daya saing produk lokal. Jika harga produk dalam negeri menjadi lebih mahal dari barang impor, maka tekanan terhadap industri nasional akan semakin berat.

Selain harga bahan, biaya logistik dan premi asuransi pengiriman internasional juga merangkak naik. Jika situasi tidak segera membaik, penurunan kapasitas produksi nasional berpotensi menyebabkan efisiensi tenaga kerja di pabrik-pabrik kosmetik.

"Kalau kapasitas produksi nasional kosmetika turun, tentu langkah yang paling tidak enak yaitu PHK,"

tutur Solihin. Pengusaha kini tengah berupaya melakukan efisiensi dengan mengurangi shift kerja serta menghentikan produksi untuk barang-barang yang kurang diminati pasar.

Hilirisasi dan Potensi Bahan Lokal

Untuk mengatasi krisis pasok, pemerintah didorong mempercepat izin impor dari negara-negara sumber baru sebagai alternatif. Strategi jangka panjang yang dinilai paling tepat adalah percepatan hilirisasi dan pengembangan bahan baku dari dalam negeri.

CEO Martha Tilaar Group, Kilala Tilaar, menekankan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan alam yang melimpah. Terdapat sekitar 33.000 jenis tanaman aromatik, herbal, dan kosmetik yang belum dikelola secara optimal untuk industri.

"Indonesia punya 33.000 tanaman obat, aromatik, dan kosmetik. Belum kita manfaatin, dimanfaatin oleh orang-orang luar negeri, diambil bahan baku mentahnya, diproses di luar negeri, balik lagi ke sini, dengan harga mungkin 8 kali lipat misalnya,"

ujar pria yang akrab disapa Kiki tersebut. Ia melihat celah bagi Indonesia untuk menciptakan identitas kecantikan sendiri di panggung internasional.

Kilala optimis bahwa dengan riset dan pengembangan yang kuat, produk lokal bisa bersaing dengan tren kecantikan global. Ambisi besarnya adalah menggeser dominasi produk luar dan memantapkan posisi kecantikan khas Indonesia dalam satu dekade mendatang.

"Mimpi kita bersama adalah kita mau geser K-Beauty. Mungkin 10 tahun lagi, kita mau menciptakan Indonesian Beauty,"

ucap Kilala menegaskan visi industri kosmetik nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi