Laju inflasi di Amerika Serikat kembali mencatatkan kenaikan pada April 2026 seiring meluasnya dampak perang Iran terhadap beban biaya konsumen. Laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mengungkapkan Indeks Harga Konsumen (CPI) meningkat 3,8 persen secara tahunan.
Dikutip dari Money, angka pertumbuhan harga ini melampaui posisi inflasi pada Maret yang tercatat di level 3,3 persen. Capaian tersebut sekaligus menjadi titik inflasi tertinggi bagi Negeri Paman Sam sejak Mei 2023.
Sektor energi menjadi motor utama di balik lonjakan biaya hidup masyarakat AS, khususnya melalui kenaikan harga bensin. BLS mencatat hampir separuh dari total kenaikan inflasi sepanjang April dipicu oleh gejolak di sektor energi.
Selain bensin, tekanan tambahan terhadap daya beli juga datang dari naiknya harga pangan dan biaya perumahan. Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran menjadi penyebab utama terganggunya rantai distribusi minyak mentah dunia.
Blokade yang terjadi di Selat Hormuz sebagai jalur logistik energi global telah memaksa harga minyak dunia merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir. Dampak nyata dirasakan warga AS melalui harga bahan bakar di pompa bensin.
Asosiasi otomotif AAA melaporkan rata-rata harga bensin tanpa timbal di AS menyentuh 4,50 dollar AS per galon, atau sekitar Rp 78.714 dengan kurs Rp 17.492 per dollar AS. Level harga ini merupakan yang tertinggi sejak Juli 2022.
Meningkatnya angka inflasi mempersempit peluang Bank Sentral AS, Federal Reserve, untuk menurunkan suku bunga pada tahun ini. Isaac Stell, Manajer Investasi di Wealth Club, menilai situasi ini bahkan membuka celah bagi kebijakan pengetatan lebih lanjut.
"Peningkatan inflasi bahkan membuat kemungkinan kenaikan suku bunga tetap terbuka," kata Stell.
Kondisi ekonomi ini bertepatan dengan rencana pergantian kepemimpinan di Federal Reserve. Kevin Warsh yang ditunjuk Presiden Donald Trump dijadwalkan menggantikan posisi Jerome Powell sebagai pimpinan otoritas moneter tersebut.
Stell berpendapat bahwa Kevin Warsh akan menghadapi keterbatasan dalam menentukan arah kebijakan ke depan. Menurut dia, pimpinan baru tersebut bakal memiliki ruang gerak yang sempit dan mungkin terpaksa mengambil pendekatan yang lebih konservatif.
Persoalan suku bunga sebelumnya sering menjadi titik perselisihan antara Trump dan Powell. Presiden AS tersebut berulang kali mendesak pemangkasan suku bunga guna memacu pertumbuhan ekonomi domestik.
Secara politik, lonjakan inflasi ini memberikan beban tambahan bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang. Hal ini kontras dengan janji kampanye Trump di tahun 2024 yang menggaungkan penurunan biaya hidup.
Menanggapi laporan terbaru BLS, Donald Trump berargumen bahwa kenaikan harga barang saat ini hanya bersifat sementara. Ia meyakini masyarakat memahami fokus pemerintah dalam mencegah pengembangan senjata nuklir Iran.
Presiden AS tersebut juga membandingkan kondisi sekarang dengan masa jabatan Joe Biden, di mana inflasi pernah menyentuh 9,1 persen pada Juni 2022. Namun, harga bensin tetap menjadi isu sensitif bagi konstituen di Amerika Serikat.
Danni Hewson, Kepala Analisis Keuangan di AJ Bell, menyebutkan bahwa pemilih Donald Trump memegang janji terkait penurunan harga. Dengan pemilu paruh waktu yang kian dekat, mahalnya belanja mingguan kembali menjadi kelemahan politik bagi partai penguasa.
"Orang Amerika sangat sensitif terhadap harga bensin. Mereka juga memilih Donald Trump dengan janji bahwa ia akan menurunkan harga," kata Hewson."Dengan pemilihan paruh waktu yang semakin dekat, fakta bahwa belanja mingguan semakin mahal sekali lagi bisa menjadi kelemahan politik bagi partai yang berkuasa, hanya saja kali ini partai tersebut telah berganti warna," lanjut dia.
Kenaikan Harga Tiket Pesawat dan Penurunan Daya Beli
Selain sektor energi dan pangan, biaya transportasi udara dan harga pakaian juga mengalami tren kenaikan sepanjang April. Sebaliknya, harga mobil baru terpantau mengalami sedikit penurunan di pasar otomotif.
Lonjakan harga tiket pesawat dipicu oleh melambungnya harga bahan bakar jet akibat gangguan pasokan minyak bumi. Maskapai penerbangan di AS dilaporkan langsung membebankan kenaikan biaya operasional tersebut kepada penumpang karena minimnya lindung nilai bahan bakar.
Data statistik menunjukkan harga rata-rata tiket pesawat di Amerika Serikat melonjak hingga 20,7 persen pada April. Kondisi ini memperparah tekanan terhadap daya beli masyarakat yang mulai melemah dalam tiga tahun terakhir.
Pada April 2026, pertumbuhan upah pekerja di AS tercatat sebesar 3,6 persen secara tahunan. Angka ini lebih rendah dibandingkan laju inflasi yang mencapai 3,8 persen, menandakan bahwa pendapatan masyarakat tidak lagi mampu mengejar kenaikan harga barang.
Reaksi negatif juga terlihat di pasar modal Amerika Serikat segera setelah data ekonomi ini dirilis. Indeks S&P 500 mengalami penurunan 0,6 persen saat pembukaan perdagangan Selasa, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 0,7 persen.