Investor mulai melirik Bitcoin sebagai instrumen diversifikasi menyusul lonjakan inflasi konsumen Amerika Serikat (CPI) ke level 3,8 persen pada April 2026 yang memicu guncangan di pasar modal global. Fenomena ini terjadi di tengah anjloknya indeks Nasdaq hingga hampir 2 persen dan pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp17.500 per dolar AS.
Data ekonomi menunjukkan kenaikan bulanan CPI sebesar 0,6 persen dipicu oleh lonjakan harga energi sebesar 17,9 persen secara tahunan. Sektor bahan makanan rumah tangga juga mencatat kenaikan bulanan 0,7 persen, sementara upah riil pekerja di Amerika Serikat justru mengalami penurunan sebesar 0,5 persen.
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, mengamati bahwa aset kripto utama tetap stabil meski saham-saham perusahaan penambangan seperti MARA dan CleanSpark terkoreksi lebih dari 5 persen. Pada Kamis (14/5/2026) pukul 16.30 WIB, Bitcoin tercatat bertahan di level US$ 79.787,3 atau menguat 6,6 persen dalam sebulan terakhir.
"Bitcoin sempat swing higher sesaat setelah data CPI dirilis, bergerak searah dengan yield Treasury, bukan searah dengan Nasdaq. Ini menyoroti perilaku harga yang semakin relevan untuk diperhatikan sebagai instrumen diversifikasi dan growth engine dalam portofolio investor," jelas Fahmi dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).
Fahmi menjelaskan bahwa pergerakan modal saat ini cenderung berpindah dari aset altcoin menuju Bitcoin yang dianggap sebagai tempat berlindung internal di pasar kripto. Ia menilai Bitcoin mampu menunjukkan daya tahan ketika pasar saham berada di bawah tekanan inflasi yang ekstrem.
"Meskipun ini bukan jaminan, data menunjukkan posisi Bitcoin yang semakin strategis, baik sebagai inflation hedge maupun reserve asset di tengah erosi daya beli mata uang fiat," tutup Fahmi.
Pasar kini menantikan tiga agenda krusial pada pekan ini, termasuk sidang Senate Banking Committee AS mengenai CLARITY Act untuk menentukan status komoditas Bitcoin pada Kamis malam. Selain itu, pergantian kepemimpinan The Fed kepada Kevin Warsh pada Jumat (15/5/2026) serta negosiasi perdagangan antara Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing menjadi perhatian utama pelaku pasar.