Kenaikan inflasi di Amerika Serikat dinilai memperkecil peluang pemangkasan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau The Fed dalam kurun waktu dekat.
Kondisi ekonomi tersebut memicu mundurnya ekspektasi penurunan suku bunga, yang berjalan beriringan dengan naiknya kembali yield obligasi pemerintah AS, seperti dikutip dari Investasi.
“Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed kini semakin mundur, sementara yield obligasi pemerintah AS kembali naik,” ujar Fahmi dalam keterangan resmi, Jumat (29/5/2026).
Kombinasi antara inflasi yang tinggi, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, serta kebijakan tarif perdagangan baru AS mulai memberikan tekanan besar pada aset berisiko.
Di pasar ekuitas AS, laju penguatan sektor teknologi masih ditopang oleh tingginya belanja kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), ekspansi infrastruktur digital, serta investasi korporasi berskala besar.
Kendati demikian, beban biaya modal yang tinggi mulai membayangi nilai valuasi dari saham-saham dengan pertumbuhan tinggi.
Saham berbasis teknologi kecerdasan buatan seperti NVIDIA, Microsoft, dan Palantir terpantau tetap menjadi fokus perhatian para pelaku pasar global.
Namun, lonjakan imbal hasil Treasury AS mulai mendorong terjadinya rotasi modal oleh investor ke sektor yang dinilai lebih defensif.
Tantangan berbeda dihadapi oleh saham industri otomotif listrik seperti Tesla yang mengalami tekanan akibat penurunan konsumsi masyarakat dan tingginya biaya pinjaman.
Pada komoditas digital, pasar kripto menunjukkan tren pergerakan yang berbeda dibandingkan dengan siklus-siklus pertumbuhan sebelumnya.
Arus dana dari investor institusional melalui ETF Bitcoin spot, penguatan stablecoin, serta integrasi aset digital ke sistem keuangan tradisional menjadi motor penggerak utama reli pasar kripto saat ini.
"Bitcoin kini semakin dipandang sebagai aset makro dibanding sekadar instrumen spekulatif," kata Fahmi.
Faktor inflasi yang tinggi serta kebijakan moneter ketat diakui dapat menimbulkan gejolak harga dalam jangka pendek bagi pasar aset digital.
Meski begitu, kekhawatiran pelaku pasar terhadap merosotnya daya beli mata uang dolar AS dan lonjakan utang pemerintah AS justru memperkuat posisi Bitcoin sebagai instrumen lindung nilai alternatif.
Sentimen positif juga menghampiri aset kripto selain Bitcoin, seperti Solana yang didorong oleh ekspansi ekosistem stablecoin serta tingginya aktivitas perdagangan on-chain.
Sementara itu, Ethereum dinilai tetap kokoh mempertahankan posisinya sebagai infrastruktur utama bagi program tokenisasi aset dan peredaran stablecoin global.
Pergerakan pasar finansial global diproyeksikan masih akan bergerak sangat sensitif dalam merespons publikasi data ekonomi AS pada beberapa bulan mendatang.
Potensi koreksi lanjutan akibat pengetatan likuiditas global dapat terjadi pada pasar saham dan kripto apabila inflasi menetap di level tinggi dan The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama.
Sebaliknya, ruang ekspansi baru yang didorong oleh tren AI, adopsi kripto oleh institusi, dan ekspektasi pelonggaran moneter dapat terbuka jika inflasi mulai menunjukkan tren melandai.
"Dalam fase seperti ini, disiplin manajemen risiko dan kemampuan membaca perubahan arus likuiditas global menjadi faktor yang jauh lebih penting dibanding sekadar mengikuti tren pasar jangka pendek," tutup Fahmi.