Data Inflasi Amerika Serikat Picu Kenaikan Indeks Dolar AS

Data Inflasi Amerika Serikat Picu Kenaikan Indeks Dolar AS

Indeks dolar Amerika Serikat mencatatkan penguatan sebesar 0,2 persen ke posisi 98,49 pada Rabu, 13 Mei 2026, setelah rilis data inflasi produsen yang melampaui estimasi pasar. Kondisi ini memperkuat ekspektasi investor terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed di penghujung tahun di tengah ketegangan geopolitik Washington dan Teheran.

Dilansir dari Investing.com pada Kamis, 14 Mei 2026, Biro Statistik Tenaga Kerja melaporkan Indeks Harga Produsen (PPI) utama AS melonjak 1,4 persen secara bulanan pada April. Angka tersebut menjadi kenaikan bulanan tertinggi sejak Maret 2022, sementara secara tahunan PPI melonjak enam persen, jauh di atas prediksi analis yang memperkirakan kenaikan 4,9 persen.

Lonjakan inflasi ini dipengaruhi secara signifikan oleh kenaikan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah yang merembet pada peningkatan biaya produksi. Situasi ini bertepatan dengan transisi kepemimpinan di Bank Sentral AS, di mana Senat telah mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai pengganti Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Jumat pekan ini.

Risiko penyebaran inflasi ke seluruh sektor ekonomi menjadi sorotan utama karena pertumbuhan sektor jasa terpantau lebih cepat dibandingkan barang inti. Analis menilai guncangan harga energi telah mulai memberikan tekanan permanen pada struktur biaya perusahaan.

"Dengan sektor jasa dalam Indeks Harga Produsen (PPI) yang berkembang lebih cepat daripada sektor barang inti, risiko inflasi yang menyebar ke seluruh perekonomian meningkat. Memang, guncangan harga minyak adalah peristiwa sekali saja, tetapi begitu perusahaan menaikkan harga jual mereka, kenaikan tersebut cenderung lebih sulit diubah dan tidak mungkin dibalikkan oleh penurunan harga minyak mentah selanjutnya," kata ekonom senior di Interactive Brokers José Torres.

Torres menambahkan bahwa pengalaman krisis tahun 2022 memberikan pelajaran berharga mengenai bagaimana tekanan harga bahan bakar dapat meluas ke berbagai barang dan jasa. Hal ini dinilai mempersulit langkah The Fed untuk mencapai target inflasi dua persen karena fokus perusahaan beralih pada perluasan margin keuntungan.

"Krisis 2022 menawarkan pelajaran penting terkait lonjakan harga bensin. Karena dampak tekanan harga di SPBU telah meluas ke barang, terutama jasa, The Fed belum mampu mengarahkan negara menuju target dua persen sejak 2021. Peningkatan tekanan harga menyebabkan perusahaan fokus pada perluasan margin setelah biaya input turun, dan itu merupakan kekhawatiran nyata bagi ekspektasi inflasi," tambah Torres.

Selain faktor ekonomi, pasar juga memantau kunjungan kenegaraan Presiden Donald Trump ke Tiongkok mulai Rabu untuk membahas krisis di Selat Hormuz. Trump didampingi sejumlah petinggi korporasi global seperti CEO Nvidia Jensen Huang dan kepala Boeing Kelly Ortberg guna mendorong kesepakatan bisnis baru di Beijing.

Di pasar valuta asing lainnya, mata uang euro mengalami pelemahan 0,2 persen menjadi 1,1713 dolar AS menyusul data PDB Zona Euro yang melambat. Berdasarkan data Eurostat, pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut hanya tumbuh 0,1 persen pada kuartal pertama 2026, turun dari 0,2 persen pada periode sebelumnya.

Poundsterling juga terpantau tertekan di level 1,3522 dolar AS akibat sentimen politik domestik di Inggris Raya setelah hasil pemilihan dewan kota yang buruk bagi partai pemerintah. Sementara itu, Yen Jepang turut melemah di tengah dominasi penguatan greenback di pasar global.

Artikel terkait

Rekomendasi