Pasar kripto global mengalami tekanan signifikan pada Rabu (13/5/2026) pagi menyusul rilis data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap potensi kebijakan suku bunga ekstrem dari Bank Sentral AS atau The Fed.
Nilai kapitalisasi pasar kripto secara global tercatat menyusut 1,47 persen menjadi US$ 2,68 triliun berdasarkan pantauan data CoinMarketCap pukul 06.20 WIB yang dilansir dari Suara. Bitcoin mengalami penurunan 1,39 persen ke level US$ 80.656 atau setara Rp 1,41 miliar per koin.
Koreksi harga juga terjadi pada mayoritas aset digital besar lainnya yang tergabung dalam Indeks CoinDesk 20 dengan rata-rata penurunan sebesar 1,93 persen. Sebaliknya, Binance Coin menjadi satu-satunya aset yang melawan arus dengan mencatatkan kenaikan moderat sebesar 0,36 persen.
| Aset Kripto | Harga (US$) | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Bitcoin (BTC) | 80.656 | -1,39% |
| Ethereum (ETH) | 2.282 | -2,47% |
| Solana (SOL) | 94,69 | -2,94% |
| XRP | 1,44 | -2,06% |
| Dogecoin (DOGE) | 0,11 | -0,78% |
| Binance Coin (BNB) | 666 | +0,36% |
Faktor Pemicu Inflasi
Lonjakan inflasi tahunan AS yang mencapai 3,8 persen dipicu oleh gangguan pasokan energi akibat ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Sektor energi mengalami kenaikan harga hampir 18 persen dan menyumbang lebih dari 40 persen total inflasi bulanan.
Lembaga riset K33 menyoroti hubungan antara pergerakan Bitcoin dengan indeks saham teknologi Nasdaq dalam laporan terbarunya. Meskipun korelasi keduanya meningkat, Bitcoin dinilai memiliki karakteristik sensitivitas yang berbeda saat pasar berada dalam kondisi ekspansi dibandingkan saat pasar jatuh.
"Rezim saat ini menunjukkan bahwa meskipun korelasi tinggi, Bitcoin tidak berperilaku sebagai proxy leverage Nasdaq saat ekspansi pasar terjadi," tulis laporan K33.
Analisis tersebut menjelaskan bahwa sensitivitas Bitcoin terhadap saham cenderung menurun saat Nasdaq menguat tajam, namun Bitcoin justru mengalami pelemahan lebih dalam ketika sentimen negatif melanda pasar saham. Di sisi lain, akumulasi Bitcoin oleh institusi melalui skema Strategy (STRC) dilaporkan terus meningkat mencapai hampir 47.000 BTC pada April lalu.