Inflasi Indonesia Mei 2026 Melonjak hingga 3,08 Persen

Inflasi Indonesia Mei 2026 Melonjak hingga 3,08 Persen

Badan Pusat Statistik mengumumkan lonjakan inflasi utama Indonesia menjadi 3,08 persen secara year on year pada Mei 2026 yang dipicu oleh kenaikan harga lintas sektor, dilansir dari Investasi pada Selasa (2/6/2026).

Angka yang menandai tingkat inflasi terkuat sejak September 2025 ini mengalami peningkatan signifikan dari capaian April 2026 yang berada di level 2,42 persen secara year on year.

Catatan tersebut berada sedikit di atas ekspektasi pasar sebesar 2,97 persen, tetapi dinilai masih sejalan dengan prediksi Samuel Sekuritas Indonesia yang mematok angka 3,09 persen.

Peningkatan ini didorong oleh lonjakan inflasi pangan yang menyentuh angka 4,94 persen secara year on year akibat tingginya harga komoditas utama serta pembengkakan biaya logistik di sejumlah wilayah.

Sektor perumahan, transportasi, kesehatan, restoran, perabot rumah tangga, komunikasi, rekreasi, hingga pendidikan turut mengalami pertumbuhan harga yang memperluas tekanan inflasi di luar sektor pangan.

"Besarnya peningkatan tersebut menunjukkan bahwa inflasi bukan lagi hanya cerita tentang fluktuasi harga pangan, tetapi mencerminkan kenaikan biaya yang meluas, sejalan dengan depresiasi rupiah," ujar Harry Su, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia.

Tren kenaikan harga ini diperkuat oleh inflasi inti yang tumbuh mencapai 2,59 persen secara year on year pada Mei 2026, naik dari angka 2,44 persen pada bulan sebelumnya.

Faktor gangguan dari sisi penawaran dinilai menjadi pemicu utama kenaikan inflasi inti tersebut, terlebih dengan adanya fenomena peningkatan perdagangan barang murah di tengah pelemahan lapangan kerja saat ini.

Sementara itu, inflasi bulanan tercatat melonjak menjadi 0,28 persen secara month on month, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan bulan April yang sebesar 0,13 persen.

Oleh karena itu, kebijakan moneter Bank Indonesia diharapkan dapat mengantisipasi risiko inflasi impor lanjutan di tengah pelemahan nilai tukar mata uang rupiah yang masih terjadi.

Kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen baru-baru ini dipandang belum cukup ampuh dalam menstabilkan pergerakan nilai tukar mata uang lokal.

Samuel Sekuritas Indonesia memproeksikan inflasi akan bertahan pada kisaran tinggi yakni 3,0 persen hingga 3,3 persen secara year on year dalam beberapa bulan ke depan akibat ancaman El Nino dan konflik Iran.

"Kami berharap pemerintah dapat memperbaiki kondisi pasokan pangan domestik dengan memberikan langkah-langkah stabilisasi untuk membantu mencegah lonjakan inflasi yang signifikan dalam beberapa bulan mendatang," ucap Harry Su, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi