Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia melonjak menjadi 3,08 persen pada Mei 2026 dari sebelumnya 2,42 persen pada April 2026 akibat tekanan harga pangan dan energi. Dilansir dari Medcom, Indeks Harga Konsumen (IHK) juga mengalami kenaikan sebesar 0,28 persen secara bulanan.
Sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,12 poin persentase, didorong oleh harga cabai merah yang melonjak sekitar 48 persen menjelang Idul Adha. Sementara itu, sektor transportasi menyumbang 0,07 poin persentase akibat kenaikan harga energi global yang dipicu konflik AS–Iran.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menahan laju inflasi dengan kontribusi deflasi -0,05 poin persentase karena harga emas yang terkoreksi sekitar -2,7 persen secara bulanan. Untuk inflasi inti tanpa komponen emas, angka tahunan naik menjadi 1,61 persen dari 1,34 persen pada bulan sebelumnya.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menilai pergerakan angka inflasi saat ini masih sangat dipengaruhi oleh komponen harga bergejolak dan kebijakan penyesuaian dari pemerintah.
"Inflasi masih banyak dipengaruhi oleh harga pangan yang volatil serta dampak dari penyesuaian harga energi global. Di sisi lain, program bantuan sosial dan peningkatan konsumsi juga ikut mendorong permintaan terhadap komoditas utama," ujar Jessica Tasijawa, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Jessica Tasijawa juga menyoroti pengaruh program Makan Bergizi Gratis yang memperkuat permintaan bahan pangan seiring melonjaknya jumlah penerima manfaat menjadi hampir 62 juta orang pada April 2026. Namun, ia melihat data penjualan ritel masih terkontraksi 1,9 persen secara tahunan pada April 2026 karena masyarakat cenderung menaikkan porsi tabungan menjadi 18,2 persen.
"Kita melihat adanya perbaikan di beberapa indikator, tetapi belum cukup untuk mendorong konsumsi secara luas. Konsumen masih selektif dalam membelanjakan pendapatan mereka," ujar Jessica Tasijawa, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Ketidakpastian geopolitik global dan faktor cuaca diperkirakan masih akan membayangi pergerakan harga pangan serta energi ke depan. Situasi tersebut berpotensi memperpanjang tren inflasi yang tinggi dan menjadi perhatian utama bagi arah kebijakan moneter Bank Indonesia.