Inflasi Iran Diprediksi Tembus 69 Persen di Tengah Krisis Ekonomi

Inflasi Iran Diprediksi Tembus 69 Persen di Tengah Krisis Ekonomi

Tekanan inflasi di Iran mengalami eskalasi tajam akibat perpaduan faktor domestik dan eksternal yang membebani perekonomian negara tersebut. Proyeksi terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan tingkat kenaikan harga di sana menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah modern.

Dilansir dari Money, IMF memprediksi inflasi Iran akan menyentuh angka 68,9 persen pada tahun 2025 mendatang. Kondisi ini memperparah tren inflasi kronis yang telah lama membayangi negara itu, di mana kenaikan harga tinggi berjalan beriringan dengan pelemahan aktivitas ekonomi.

Ekonomi Iran juga diperkirakan mengalami kontraksi signifikan dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil yang sempat menyentuh level negatif 6,1 persen. Secara historis, defisit anggaran pemerintah yang dibiayai melalui ekspansi moneter menjadi pemicu utama persistennya inflasi di sana.

Peningkatan likuiditas tersebut mendorong kenaikan harga secara luas, ditambah dengan ketergantungan pada pendapatan minyak serta sistem fiskal yang lemah. Data IMF menunjukkan penerimaan pemerintah Iran hanya sekitar 10,37 persen terhadap PDB, sementara belanja mencapai 14,2 persen terhadap PDB.

Kesenjangan fiskal tersebut berpotensi mendorong pembiayaan melalui pencetakan uang yang berkontribusi langsung pada inflasi. Selain itu, depresiasi nilai tukar rial meningkatkan biaya impor untuk barang konsumsi serta bahan baku produksi secara drastis.

Sanksi ekonomi internasional yang menyasar sektor minyak dan sistem keuangan menjadi faktor eksternal utama yang memperburuk situasi. Pembatasan ini memangkas pendapatan devisa negara dan mempersempit akses terhadap pasar global, sehingga biaya produksi domestik melonjak.

Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah turut memberikan tekanan tambahan bagi ekonomi Iran. Laporan IMF menilai ketegangan kawasan tersebut memicu kenaikan harga energi global yang berdampak pada stabilitas domestik maupun internasional.

Risiko Hiperinflasi dan Daya Beli

Lonjakan harga barang kebutuhan pokok seperti makanan dan energi menekan kesejahteraan rumah tangga secara langsung. Dalam beberapa tahun terakhir, inflasi di Iran konsisten berada di atas 40 persen dengan kenaikan harga pangan yang jauh lebih tinggi.

Sejumlah analis memperingatkan adanya risiko fase hiperinflasi jika reformasi struktural tidak segera dilakukan. Tanpa perubahan kebijakan ekonomi mendasar, kombinasi defisit fiskal dan ekspektasi inflasi tinggi di masyarakat dapat melumpuhkan daya beli secara total.

Pemerintah Iran telah berupaya merespons kondisi ini melalui pemberian subsidi dan bantuan langsung untuk menahan harga kebutuhan pokok. Namun, pengeluaran subsidi yang besar justru berisiko memperlebar defisit anggaran yang pada akhirnya memicu kembali siklus inflasi.

Nilai PDB Iran pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 300 miliar dollar AS, yang menunjukkan skala ekonomi cenderung stagnan. Dengan proyeksi pertumbuhan hanya sekitar 1,1 persen pada periode berikutnya, Iran menghadapi tantangan ekonomi yang sangat kompleks.

Artikel terkait

Rekomendasi