Infrastruktur Menua Bebani Industri Minyak dan Gas Indonesia

Infrastruktur Menua Bebani Industri Minyak dan Gas Indonesia

Tantangan kompleks membayangi industri minyak dan gas bumi di Indonesia pada tahun ini akibat banyaknya fasilitas operasional yang telah berusia tua. Penurunan performa aset tersebut memicu urgensi perubahan strategi pengelolaan demi menjaga stabilitas produksi nasional.

Persoalan ini mengemuka dalam pameran IPA Convex 2026 pada Jumat, 22 Mei 2026, sebagaimana dilansir dari Money. Sebagian besar fasilitas produksi di dalam negeri dilaporkan telah beroperasi selama beberapa dekade hingga membutuhkan penanganan intensif.

Head of Infrastructure Protection & Repair APAC di Henkel Adhesive Technologies, Hugo Quintanilla menjelaskan bahwa pengelolaan aset kini menjadi faktor krusial bagi kelangsungan industri energi. Pendekatan manajemen perlu digeser dari sistem reaktif ke tindakan preventif demi menekan pembengkakan biaya operasional akibat kerusakan mendadak.

“Kebutuhan akan solusi yang dapat memperpanjang umur aset dan meningkatkan efisiensi energi telah menjadi prioritas utama perusahaan dalam mendukung keberlanjutan industri minyak dan gas di Indonesia,” kata Hugo Quintanilla.

Kerugian besar mengancam pelaku industri jika penanganan kerusakan dilakukan secara mendadak. Menurut kalkulasi global, penghentian operasional tidak terencana selama satu jam berpotensi memicu kerugian hingga 500.000 dollar AS atau sekitar Rp 8,8 miliar dengan asumsi kurs Rp 17.723 per dollar AS.

“Dengan solusi andal yang ditawarkan Henkel, kebutuhan akan perbaikan jangka pendek yang berulang dapat dikurangi secara signifikan, sekaligus meminimalkan risiko kegagalan aset kritis,” tambah Hugo Quintanilla.

Henkel selaku penyedia teknologi industri hilir telah menerapkan sistem perlindungan mekanis ini pada sejumlah jaringan perpipaan strategis di Sumatra dan Kalimantan. Langkah ini diambil seiring melonjaknya aktivitas manufaktur dan konsumsi daya domestik yang membutuhkan perlindungan aset secara jangka panjang.

“Indonesia bukan hanya memiliki potensi besar, tetapi juga akan terus berkembang dalam jangka panjang, terutama di sektor energi dan industri berat,” kata Hugo Quintanilla.

Artikel terkait

Rekomendasi