Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren) mengintegrasikan jaringan pondok pesantren ke dalam rantai pasok pangan nasional melalui Program Koperasi Desa Merah Putih pada Rabu (20/5/2025). Dilansir dari Cahaya, langkah ini bertujuan memperkuat posisi pesantren sebagai penggerak utama ekonomi kerakyatan dan digital umat di Jakarta Selatan.
Skema penguatan ekonomi ini menempatkan koperasi pesantren (kopontren) sebagai penyedia bahan baku utama untuk kebutuhan harian serta ekosistem desa. Inkopontren menjalankan strategi tersebut guna mengubah peran pesantren agar tidak sekadar menjadi pihak penerima bantuan sosial.
"Beberapa yang progres sedang berjalan itu dapur-dapur MBG yang di bawah koordinasi Inkopontren. Tentu bahan baku yang dihasilkan itu disuplai dari pelaku-pelaku usaha, baik yang tertampung di koperasi desa Merah Putih ataupun juga yang ada di pesantren-pesantren," ujar Suharisto, Wakil Ketua Inkopontren usai Rapat Kerja Nasional Inkopontren 2026.
Pemberdayaan dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir melalui gerakan Indonesia Santripreneur Care (ISC). Program tersebut memfasilitasi pelatihan sumber daya manusia, inkubasi bisnis, permodalan, hingga penyediaan platform pemasaran digital terintegrasi.
"Pesantren itu selain sebagai penerima manfaat, juga sebagai pelaku usaha," katanya.
Inkopontren juga menjalin kerja sama lintas sektoral dengan Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Koperasi, dan Kementerian UMKM untuk mengoptimalkan potensi pasar dari sekitar 12 juta santri. Kementerian Ketenagakerjaan berfokus pada pelatihan vokasi, sedangkan Kementerian Koperasi menangani pembiayaan usaha.
"Dari mulai up-skilling SDM, inkubasi bisnis, sampai digital marketing itu kita siapkan. Harapannya nanti kita punya platform sendiri," ungkap Suharisto.
Sektor usaha produktif yang dikembangkan di lingkungan pesantren kini mencakup bidang pertanian, peternakan, hingga industri manufaktur kecil. Inkopontren saat ini tengah menyiapkan peluncuran produk konsumsi massal pertama berupa Kecap Santri.
"Produk-produk yang sudah dihasilkan dari kita ini selain dari farming di lingkungan pondok, juga kemampuan vokasi seperti mekanik, administrasi, dan lain-lain. Sekarang Inkopontren juga sedang mempersiapkan kecap santri," jelasnya.
Pengembangan teknologi digital seperti pemanfaatan sistem blockchain diproyeksikan menjadi fase akhir dari gerakan ISC. Kendati demikian, pemenuhan kebutuhan dan konsistensi pasar domestik pesantren tetap menjadi prioritas sebelum menyasar pasar internasional.
"Bagaimana kita punya blockchain sendiri, bagaimana kita punya platform sendiri," katanya.
Inkopontren memilih untuk memperkuat fondasi internal terlebih dahulu guna memastikan kualitas produk yang berkelanjutan di dalam negeri.
"Kalau sudah punya kualitas dan kontinuitas produk, baru kita melangkah ke ekspor," ujarnya.
Saat ini, struktur jaringan ekonomi ini ditopang oleh 20 Pusat Koperasi Pondok Pesantren (Puskopontren) tingkat provinsi di seluruh Indonesia. Jaringan wilayah tersebut berfungsi menghubungkan ekosistem ekonomi dari tingkat pusat langsung menuju unit koperasi di tiap pondok pesantren.
"Dari Puskopontren di tingkat provinsi itu kemudian langsung kepada pondok-pondok pesantren, kopontren namanya," tutur Suharisto.