JAKARTA, KOMPAS.com - Munculnya berbagai inovasi di tingkat rukun tetangga (RT) di sejumlah wilayah Jakarta dinilai sebagai terobosan positif yang layak diapresiasi dan bahkan berpotensi menjadi contoh nasional.
Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah mengatakan, praktik baik di satu RT seharusnya tidak berhenti di tingkat lokal, tetapi perlu direplikasi ke wilayah lain melalui transfer pengetahuan.
“Saya melihat ini bisa menjadi role model bagi daerah-daerah lain, RT-RT lain yang belum melakukan. Jadi, harus ada transfer of knowledge bagi RT lain, sehingga hal itu bisa dimiliki masing-masing RT-RT yang ada,” ujar Trubus saat dihubungi Kompas.com, Rabu (20/5/2026).
Trubus menilai inovasi yang dilakukan sejumlah RT dapat menjadi model bagi wilayah lain, asalkan disertai pengawasan dan pemahaman aturan yang kuat.
“Ya, bahwa inovasi sepatutnya kita apresiasi, itu hal-hal baik, yang dikembangkan dan dipertahankan untuk lebih baik dalam rangka optimal bahasa layanan publik,” kata Trubus.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa inovasi berbasis aplikasi dan digitalisasi di tingkat RT juga menyimpan potensi risiko jika tidak diawasi secara ketat.
“Kalau yang ideal itu, dikasihkan pembelajaran, pelatihan, terkasih itu, termasuk juga edukasi kaitan dengan ini, pemahaman aturan hukumnya,” kata dia.
Tanpa pengawasan dan evaluasi berkelanjutan, Trubus menilai, inovasi justru bisa disalahgunakan dan merugikan masyarakat.
“Karena tanpa latihan semacam ini tanpa ada ruang kendali untuk pengawasan yang ketat, evaluasi yang terus-menerus, dan bagaimana ada partisipasi publik yang luas, itu kekhawatiran jadi itu digunakan untuk hal-hal yang pada akhirnya merugikan masyarakat juga,” ujarnya.
Trubus juga menyoroti perubahan peran RT yang kini tidak lagi sekadar struktur administratif, melainkan mulai memiliki pengaruh lebih besar di lingkungan warga.
Ia menyebut kondisi tersebut harus tetap dalam koridor negara hukum agar tidak menimbulkan penyimpangan.
“Jadi jangan terbalik, justru merugikan masyarakat. Karena kita negara hukum, jadi kalau ada persoalan-persoalan, mereka sudah tahu bahwa ini solusinya begini,” katanya.
Diketahui, peran RT di Jakarta kini mengalami transformasi.
Di Jakarta Utara, RT 07 RW 08 Kelurahan Rawa Badak Selatan dipimpin mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sahdan Arya Maulana (19), yang dipercaya memimpin sekitar 150 kepala keluarga atau 750 jiwa.
Meski sempat diragukan karena usianya masih muda, Sahdan justru menang telak dalam pemilihan dengan perolehan 126 suara, jauh mengungguli lawannya yang hanya meraih 17 suara.
Salah satu langkah awalnya adalah memperbaiki jalan lingkungan sepanjang 100 meter menggunakan dana swadaya RT sebesar Rp 23 juta tanpa bantuan pemerintah.
“Tadinya rencana mengecor satu bulan ke depan. Tapi, karena kondisi jalan rusak parah, akhirnya langsung dicor hari itu juga,” ujar Sahdan.
Ia juga memiliki cita-cita untuk pengembangan peran lebih besar di masa depan.
“Pengin menunjang karier. Karena cita-citanya pengin jadi Gubernur Jakarta,” kata dia.
Di Jakarta Timur, inovasi datang dari RT 08 RW 04 Malaka Jaya, Duren Sawit, yang dipimpin Taufiq Supriadi.
Ia memanfaatkan selokan sebagai kolam budidaya ikan lele dengan sistem dua lantai.
“Waktu ke Tokyo, saya lihat ada ikan di saluran air. Itu sama seperti ini dua lantai, bagian bawah untuk air kotor, bagian atasnya untuk ikan,” ujar Taufiq.
Dari sistem tersebut, ia menyebut hasil panen bisa mencapai puluhan juta rupiah per tahun, dengan harga lele sekitar Rp 25.000 per kilogram.
Selain untuk ekonomi, ia juga mengembangkan “kolam gizi warga” untuk balita dan lansia guna mencegah stunting.
“Saya bikin kolam gizi buat warga, untuk lansia dan balita, isinya ikan nila dan bawal yang bisa diambil dan dikonsumsi secara gratis,” katanya.
Sementara itu di Gandaria Utara, Jakarta Selatan, RT 11 RW 7 yang dipimpin Imam Basori atau Ibas mengembangkan sistem keamanan berbasis digital bernama “Si Jaga Warga”.
Sistem tersebut mencakup pengeras suara malam, panic button, QR patroli, hingga CCTV yang bisa diakses warga melalui ponsel.
“Nah, itu isinya imbauan masyarakat, khususnya anak-anak nih jam malam, jam 22.00 WIB sudah bisa kembali lagi ke rumah,” ujar Ibas.
Selain keamanan, RT tersebut juga mengembangkan program ekonomi warga melalui aplikasi “RT 11 Mart”, bank sampah, hingga usaha jasa berbasis komunitas.