Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengadakan pertemuan dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di kantor Kementerian Keuangan pada Selasa (5/5/2026) guna membahas strategi penguatan sektor manufaktur. Diskusi tersebut juga mematangkan peluang pemberian insentif bagi kendaraan listrik sebagai langkah mendukung transisi energi nasional.
Sektor manufaktur diposisikan sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia karena konsistensi pertumbuhannya yang melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, seperti dilansir dari Money. Pemerintah kini fokus mencari solusi atas berbagai hambatan yang masih dirasakan oleh para pelaku industri di lapangan.
“Kita semua tahu bahwa sektor manufaktur merupakan tulang punggung dari perekonomian. Kontribusi terhadap GDP-nya dari tahun-tahun naik, bahkan pertumbuhan manufaktur tahun lalu bisa tercatat di atas pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.
Pemerintah memberikan perhatian khusus pada penyelesaian hambatan birokrasi melalui pembentukan tim khusus. Upaya ini dilakukan melalui analisis mendalam terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh pengusaha di berbagai lini bisnis.
“Nah itu kemudian mencarikan jalan keluarnya, walaupun kami juga memberikan apresiasi sejak awal bahwa Menteri Keuangan sudah membuka, menganalisis masalah-masalah yang dihadapi oleh pelaku usaha, bukan hanya manufaktur dengan membentuk apa yang disebut dengan tim debottlenecking,” kata Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.
Data menunjukkan bahwa porsi ekspor produk manufaktur sangat dominan terhadap total ekspor Indonesia. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi sektor ini berada di kisaran 75 persen hingga 80 persen dari keseluruhan nilai ekspor nasional.
“Termasuk bagaimana kita mengupayakan agar ekspor manufaktur yang sudah sangat baik. BPS selalu mencatat bahwa ekspor nasional kita rata-rata 75 persen sampai 80 persen itu merupakan ekspor produk-produk manufaktur,” kata Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.
Selain masalah ekspor, pertemuan tersebut menyinggung relevansi pemberian stimulus untuk kendaraan listrik. Kebijakan ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak serta mendorong penyerapan tenaga kerja di industri otomotif baru.
“Soal insentif? Insentif macam-macam tadi kita bicarakan. Kita sudah bicara salah satunya juga bicara soal insentif sebagai stimulus. Kalau memang pemerintah memberikan insentif untuk motor atau mobil listrik, ini semakin relevan,” ujar Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.