Pemerintah Indonesia mengintervensi pasar sekunder dengan membeli Surat Berharga Negara sebesar Rp2,2 triliun guna menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang diprediksi bertahan di level Rp17.800 per dolar AS pada pekan depan.
Langkah penyerapan obligasi negara tersebut diambil demi menjaga agar imbal hasil tidak melonjak terlalu tinggi akibat ketidakpastian global yang dipicu oleh konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pasokan dolar diproyeksikan bakal mengalir masuk dalam jumlah signifikan ke dalam sistem perekonomian domestik pada bulan Juni mendatang.
"If I may say, forex players, sell quickly. We will push the rupiah towards Rp15,000," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Pihak kementerian juga menekankan situasi pergerakan kurs saat ini tidak akan berujung pada keruntuhan ekonomi total seperti yang pernah dialami Indonesia pada periode krisis moneter tahun 1998 silam.
"Since all expenses, including tuition fees, rent, food, transportation and daily needs, are paid in a foreign currency, the weaker rupiah has a very noticeable impact on families like ours, especially for me as a teacher, relying solely on my salary to finance my child’s education," kata Hani Herawati, seorang guru.
Pelemahan nilai tukar mata uang ini mendesak kelompok masyarakat kelas menengah melakukan penyesuaian anggaran belanja rutin harian karena tabungan pendidikan luar negeri yang telah dipersiapkan bertahun-tahun kini melampaui kalkulasi awal.
"My generation watched our parents give everything to a company. We decided to give it to ourselves instead. But it's more complicated than that," tulis The Weekender.
Di sisi lain, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,61 persen saat ini belum mampu menyokong penguatan nilai tukar domestik secara instan.
"For one week, most likely at around Rp17,680-17,800 per dollar," kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Ibrahim menambahkan bahwa kebijakan suksesi kepemimpinan bank sentral AS, Federal Reserve, dari Jerome Powell ke Kevin Warsh yang berpotensi menaikkan suku bunga hingga 50 basis poin turut memperparah sentimen pasar uang.
"This could possibly lead to a monopoly and here is what's causing the outflow of foreign capital and the weakening of the rupiah," kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Struktur kelembagaan baru PT Danantara Sumberdaya Indonesia bentukan Presiden Prabowo Subianto yang meregulasi ekspor komoditas sumber daya alam dinilai oleh analis pasar berisiko memicu monopoli perdagangan dan mendorong hengkangnya modal asing dari pasar domestik.