Forum Industri Nikel Indonesia memproyeksikan investasi di sektor hilirisasi mineral nikel terus melaju kencang melalui potensi tambahan modal baru dalam tiga tahun ke depan di Jakarta pada Rabu (3/6/2026).
Pertumbuhan modal jumbo tersebut didorong oleh komitmen ekspansi berkelanjutan serta peningkatan kapasitas fasilitas pengolahan domestik yang dilansir dari Investasi. Sektor hilirisasi nasional mencatatkan pertumbuhan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Kebijakan pemerintah dalam mendorong hilirisasi terbukti memicu tren positif realisasi penanaman modal sejak tahun lalu. Sektor hulu hingga hilir komoditas ini menjadi kontributor utama penyumbang modal terbesar.
"Kalau kita lihat apa yang dilakukan pemerintah saat ini, tadi sempat disinggung mengenai realisasi investasi di downstream, tahun 2025 itu Indonesia telah berhasil menginvestasikan kurang lebih Rp 584 triliun. Ini kurang lebih 43% lebih besar, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Arif Perdana Kusumah, Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI).
Hilirisasi nikel mendominasi capaian total investasi sepanjang tahun 2025. Penanaman modal pada komoditas ini mencatatkan angka tertinggi di antara program hilirisasi lain.
"Kalau kita lihat Nikel adalah salah satu komoditas yang di mana investasinya sangat besar pada tahun 2025 itu sekitar Rp 185 triliun. Jadi kalau kita lihat dari semua program hilirisasi yang dikembangkan pada saat itu, Nikel menjadi komoditas yang paling tinggi," terang Arif Perdana Kusumah, Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI).
Arus masuk modal ke ekosistem nikel dalam negeri menunjukkan grafik peningkatan yang masif. Akumulasi pertumbuhan modal tersebut tercatat secara konsisten dalam periode lima tahun terakhir.
"Dan untuk sektor Nikel sendiri, kalau kita lihat data dari mulai tahun 2020 hingga 2025, itu nilai investasinya sudah mencapai Rp 690 triliun atau kurang lebih US$ 44,6 billion," beber Arif Perdana Kusumah, Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI).
Catatan performa yang kokoh ini memperkuat keyakinan target penambahan modal baru bukan hal mustahil. Pihak asosiasi menetapkan estimasi penambahan investasi dalam kurun waktu antara tahun 2026 hingga 2028.
"Dan karena masih ada pengembangan kapasitas ke depannya, diperkirakan kalau dari catatan kami dari FINI, kami melihat kurang lebih akan ada sekitar US$ 20 miliar investasi lagi di antara tahun 2026-2028," tandas Arif Perdana Kusumah, Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI).