Investasi Infrastruktur Gizi Dorong Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen

Investasi Infrastruktur Gizi Dorong Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen

Perekonomian Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan I-2026 yang didorong oleh masifnya pembangunan infrastruktur pendukung program gizi nasional. Capaian ini diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di Jakarta pada Selasa (5/5/2026) sebagai indikator penguatan investasi domestik.

Akselerasi ekonomi tersebut melampaui capaian triwulan IV-2025 yang berada di angka 5,39 persen serta meningkat signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyatakan pembangunan fisik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memberi dampak positif pada komponen investasi.

Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi motor pertumbuhan terbesar kedua dengan kontribusi 1,79 persen dan tumbuh sebesar 5,96 persen. Sektor konstruksi yang menopang pembangunan SPPG dan Koperasi Desa Merah Putih turut menguat 5,49 persen dalam periode tersebut.

"Di dalam triwulan I 2026 ini juga kami mencermati adanya pembangunan fisik SPPG yang cukup masif dan tentunya pembangunan-pembangunan fisik, dan juga infrastruktur konektivitas ini menjadi bagian dari kontribusi terhadap PMTB," kata Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS.

Amalia merinci bahwa investasi pada fasilitas gizi tersebut mencakup belanja modal untuk konstruksi dapur hingga penyediaan peralatan pendukung. Hal ini meningkatkan porsi kontribusi PMTB terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga mencapai 28,29 persen.

"Konstruksi tumbuh menguat 5,49 persen sejalan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan infrastruktur fisik yang didorong oleh meningkatnya realisasi anggaran belanja modal pemerintah untuk sektor konstruksi, meningkatnya aktivitas konstruksi oleh swasta, salah satunya karena bertambahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG dan juga Koperasi Desa Merah Putih," jelas Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS.

Meski tumbuh positif secara tahunan, BPS mencatat ekonomi mengalami kontraksi 0,77 persen secara triwulanan (qtq). Konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan dengan andil 2,94 persen, diikuti oleh konsumsi pemerintah sebesar 1,26 persen.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2026 juga ditopang oleh komponen PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto) dengan sumber pertumbuhan sebesar 1,79 persen, sementara konsumsi pemerintah memberikan sumber pertumbuhan 1,26 persen," kata Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pencapaian ini merupakan sinyal positif bagi Indonesia untuk keluar dari tren pertumbuhan moderat. Ia menyebut hasil ini melampaui kekhawatirannya terhadap tekanan ekonomi global yang masih sangat dinamis.

"Jadi kalau target tercapai jumpa persnya santai lah. Saya nggak stress, padahal semalam saya nggak bisa tidur, tercapai nggak, tercapai nggak, tapi begitu tadi 5,61% waduh, harus traktir," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Purbaya menekankan bahwa pertumbuhan di atas 5 persen ini membuktikan resiliensi ekonomi nasional di tengah gejolak pasar internasional. Pemerintah menargetkan dukungan lebih besar pada sektor ekspor agar daya saing global tetap terjaga.

"Jadi gini, ini prestasi yang luar biasa loh di tengah gejolak tekanan perekonomian global yang amat tidak menentu, kita masih bisa tumbuh sesuai dengan target 5,61%. Dan dibandingkan dengan triwulan IV tahun lalu kan tumbuhnya lebih cepat. Dulu 5,39%, jadi clear kita sudah terlepas dari kutukan pertumbuhan 5%. Jadi ekonomi sedang bergerak ke arah yang lebih cepat lagi," beber Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Pemerintah kini fokus memitigasi risiko ketidakstabilan global yang diprediksi masih menjadi tantangan utama pada triwulan mendatang. Langkah dukungan diarahkan pada perusahaan berorientasi ekspor agar tetap kompetitif di pasar dunia.

"Tapi kan kita tahu hambatan masih akan besar di depan mengingat global juga belum baik kondisinya. Jadi kita harus pastikan tumbuh dengan bagus dan segala mesin atau perusahaan-perusahaan yang ekspor oriented dan masih bisa ekspor, kita akan dukung supaya mereka bisa kompetitif di global market," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Artikel terkait

Rekomendasi