Investor asing gencar melakukan aksi beli bersih terhadap saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) selama dua hari berturut-turut di Bursa Efek Indonesia meskipun indeks harga saham gabungan sedang mengalami tekanan jual hebat.
Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), transaksi beli bersih oleh pemodal asing di pasar reguler mencapai Rp 203,8 miliar, yang menjadi nilai terbesar dibandingkan saham-saham lainnya.
Satu hari sebelumnya, tepatnya pada Rabu (20/5/2026), saham emiten mitratama Grup Bakrie dan Salim ini juga mencatat transaksi beli bersih asing tertinggi senilai Rp 223,4 miliar atau Rp 223,43 miliar.
Berdasarkan data perdagangan Kamis (21/5/2026) yang dilansir dari investor.id, harga saham BUMI ditutup melemah sebesar 5,2 persen ke level Rp 164 per saham.
Koreksi tersebut memperpanjang tren negatif saham BUMI yang tercatat menyusut 23,3 persen dalam sepekan terakhir, anjlok 32,2 persen dalam sebulan, serta merosot hingga 55,19 persen sepanjang tahun berjalan ini.
Aktivitas fluktuasi perdagangan pada sesi I Kamis (21/5/2026) sekitar pukul 10.09 WIB sempat mencatat penurunan sebesar 2,31 persen ke level Rp 169 dengan volume 2,35 billion saham ditransaksikan senilai Rp 401,63 miliar melalui 34.617 kali frekuensi.
Data dari aplikasi Stockbit Sekuritas yang dilansir mediakompeten.co.id memperlihatkan adanya aksi jual bersih oleh investor domestik senilai Rp 94,8 miliar saat pergerakan sesi pertama tersebut dihimpun.
Tekanan jual ini juga membayangi pergerakan pada Selasa (19/5/2026) saat harga saham tergelincir 9,71 persen, walau asing tetap membukukan net buy senilai Rp 66,6 miliar.
Menyikapi volatilitas pasar tersebut, pihak Maybank Sekuritas memberikan analisis teknikal terkait potensi pergerakan instrumen investasi ini dalam jangka pendek.
“Meskipun volume terpantau besar, namun mempertimbangkan net foreign flow yang positif dapat mengindikasikan posisi baru bagi smart money dan membuka peluang pembalikkan arah jangka pendek,” sebut Maybank Sekuritas.
Lembaga broker efek tersebut menetapkan titik support saham BUMI pada level 167 dengan batas stoploss di bawah angka 159, sementara target harga terdekat diproyeksikan berada pada rentang 189-200.
Penurunan harga saham komoditas ini disinyalir ikut terpengaruh oleh sentimen kebijakan baru pemerintah mengenai tata kelola ekspor melalui satu pintu lewat BUMN PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Aturan yang menyasar batu bara, CPO, dan ferroalloy ini bertujuan meminimalkan praktik under-invoicing serta memperkuat posisi tawar harga Indonesia, dengan masa transisi dimulai 1 Juni 2026 hingga implementasi penuh pada 1 September 2026.
Dari sisi fundamental, analis MNC Sekuritas Raka Junico menilai perusahaan memiliki rekam jejak efisiensi operasional yang teruji dengan raihan laba kuartal I-2026 sebesar US$ 28,1 juta atau tumbuh 35,2 persen.
Pendapatan perseroan turut terkerek naik 19,7 persen menjadi US$ 417,7 juta, ditopang agresivitas diversifikasi bisnis multi-komoditas melalui akuisisi tambang Wolfram, tambang emas Jubilee, serta rencana ekspansi anorganik pada Loyal Metals di Australia.