Investor asing melepas saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai penjualan bersih mencapai Rp265,3 miliar dari total transaksi jual bersih Rp525,3 milar di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (3/6/2026) sesi I.
Dilansir dari Investor Daily, tekanan jual di pasar reguler yang mencapai volume 46,6 juta lembar saham tersebut mengakibatkan harga saham BBCA merosot 3 persen ke level Rp5.650 per saham.
Penurunan ini memperpanjang tren negatif bank swasta terbesar di Indonesia tersebut setelah tergerus 5,4 persen dalam sepekan terakhir dan melemah 3,4 persen dalam sebulan, sehingga akumulasi penurunan mencapai 30 persen sepanjang tahun berjalan ini.
Sehari sebelumnya, Selasa (2/6/2026), saham BBCA sebenarnya sempat ditutup menguat 2,19 persen ke level Rp5.825 per saham, meski secara year to date masih tercatat merosot sebesar 27,86 persen.
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan menilai bahwa pelemahan harga saham BBCA saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal pasar modal ketimbang penurunan kinerja fundamental dari perseroan.
"BBCA merupakan salah satu saham dengan porsi kepemilikan asing yang besar dan sangat likuid, sehingga ketika terjadi foreign outflow, saham ini biasanya menjadi salah satu yang paling terdampak," ujar Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama.
Ekky mencatat saham BBCA sempat turun lebih dari 9 persen ke kisaran Rp5.850 pada April 2026 akibat tekanan jual asing pada saham perbankan berkapitalisasi besar, ditambah revisi outlook negatif untuk lima bank nasional oleh Moody's.
"Jadi tekanan pada BBCA bukan karena fundamentalnya memburuk, melainkan kombinasi foreign outflow, kenaikan risk premium Indonesia, dan penyesuaian valuasi sektor perbankan oleh pasar," jelas Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama.
Padahal secara fundamental keuangan, BCA membukukan pertumbuhan laba bersih kuartal I 2026 sebesar 3,8 persen secara tahunan menjadi Rp14,7 triliun, dengan penyaluran kredit tumbuh 5,6 persen menjadi Rp994 triliun.
"Fundamental BBCA masih sangat sehat, tetapi pertumbuhan laba belum terlalu agresif sehingga belum mampu menjadi katalis utama di tengah sentimen pasar yang masih berhati-hati," kata Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama.
Meskipun jangka pendek pergerakan saham diproyeksikan masih akan cenderung volatil, valuasi harga saham BBCA saat ini dinilai sudah jauh lebih menarik setelah mengalami koreksi yang cukup dalam.
"Target terdekat BBCA berada di area Rp 6.500 hingga Rp 6.700. Jika sentimen membaik dan dana asing kembali masuk, ada peluang menuju level Rp 7.700 per saham," ujarnya Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama.
Ekky merekomendasikan investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi secara bertahap, sementara bagi para trader jangka pendek disarankan menunggu konfirmasi pembalikan tren perdagangan yang lebih kuat.
"Risiko utamanya adalah jika foreign outflow masih berlanjut dan saham gagal bertahan di area support bawah," tutup Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama.
Merespons situasi pasar ini, MNC Sekuritas memotong target harga saham BBCA dari proyeksi awal sebesar Rp10.500 menjadi Rp8.700, namun mereka tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk emiten tersebut.
Patokan target harga baru dari MNC Sekuritas tersebut mencerminkan estimasi valuasi Price to Book Value sebesar 3,4 kali untuk tahun 2026 dan 3 kali untuk tahun 2027.
Ketahanan laba bersih BBCA diproyeksikan tetap terjaga berkat efisiensi berkelanjutan dan struktur permodalan yang kuat, meskipun masih dihadapkan pada risiko pertumbuhan kredit yang lebih lambat serta potensi pemburukan situasi ekonomi makro nasional.