Aksi jual bersih oleh investor asing memicu kejatuhan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) hingga menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir pada penutupan perdagangan Kamis (4/6).
Berdasarkan data pasar yang dihimpun dari Kontan, Investor ID, Fortune Indonesia, dan TradingView, saham BBCA anjlok 1,81 persen ke posisi Rp5.425 per saham dengan nilai penjualan bersih asing mencapai Rp463,67 miliar pada hari itu.
Secara tahun berjalan, pelemahan harga saham BBCA telah mencapai 32,82 persen, sementara saham BBRI merosot 23,22 persen setelah ditutup turun 3,1 persen ke level Rp2.810 per lembar saham pada hari yang sama.
Sepanjang tahun berjalan 2026, akumulasi penjualan bersih asing pada saham BBCA menembus Rp31,34 triliun dan pada saham BBRI mencapai Rp9,57 triliun, yang menurunkan porsi kepemilikan asing di kedua bank tersebut per Mei 2026.
Tekanan eksternal dari penyesuaian indeks MSCI dinilai menjadi salah satu pemicu utama koreksi, di samping faktor makroekonomi domestik seperti kenaikan suku bunga acuan dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Pihak Trimegah Sekuritas melalui analis saham Jonathan Gunawan menjelaskan bahwa setelah tekanan penyesuaian indeks mereda, perhatian pasar akan kembali tertuju pada kekuatan fundamental emiten seperti pertumbuhan laba dan kualitas kredit.
"Setelah tekanan MSCI selesai, investor akan kembali melihat kualitas emiten. Untuk BBCA, faktor yang akan diperhatikan adalah pertumbuhan laba, kualitas kredit, dana murah, dan dividen. Jadi kalau fundamental tetap kuat, koreksi akibat rebalancing bisa dilihat sebagai tekanan sementara," ujar Jonathan Gunawan, Analis Saham Trimegah Sekuritas.
Kondisi makroekonomi juga turut membayangi pergerakan sektor keuangan, di mana kebijakan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 memicu kekhawatiran jangka pendek terhadap kinerja perbankan besar.
"Sektor perbankan itu punya korelasi yang erat dengan makro ekonomi domestik. Pelemahan kurs rupiah akan memicu offload investor asing," kata Nafan Aji Gusta, Senior Analis Mirae Asset Sekuritas.
Meskipun terjadi pelemahan yang signifikan akibat sentimen kurs, kinerja keuangan empat bank besar pada empat bulan pertama 2026 dipastikan tetap solid dengan pertumbuhan laba bersih yang terjaga.
Penurunan harga yang tajam ini sekaligus membuat valuasi saham perbankan besar berada pada posisi yang relatif murah dibandingkan rata-rata historisnya, yang dapat membuka peluang akumulasi bagi para investor.