Investor Asing Lepas Aset SBN dan Saham Tekan Nilai Tukar Rupiah

Investor Asing Lepas Aset SBN dan Saham Tekan Nilai Tukar Rupiah

Nilai tukar rupiah mengalami tekanan hebat akibat aksi jual masif investor asing di pasar obligasi dan saham domestik pada Kamis (7/5/2026). Mata uang Garuda ditutup pada level Rp17.320 per dolar AS setelah sebelumnya sempat terpuruk melampaui angka psikologis Rp17.000 sepanjang tahun berjalan.

Kelesuan ini berbanding lurus dengan amblesnya performa pasar obligasi nasional. Dilansir dari Market melalui data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), imbal hasil atau yield acuan Surat Berharga Negara (SBN) merosot ke level 6,84 persen pada perdagangan Kamis (7/5/2026).

Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 11,94 persen secara year-to-date (YtD) dibandingkan posisi awal tahun yang berada di level 6,11 persen. Penurunan harga SBN ini memicu investor asing melakukan aksi lepas kepemilikan dengan nilai net sell mencapai Rp12,12 triliun YtD.

Data kepemilikan asing mencatat Surat Utang Negara (SUN) menjadi instrumen yang paling banyak dijual dengan nilai Rp11,62 triliun. Sementara itu, instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp490 miliar.

Tekanan terhadap aliran modal keluar mulai meningkat signifikan sejak Maret 2026. Kondisi ini dipicu oleh pembekuan rebalancing saham RI oleh MSCI Inc. serta penurunan outlook kredit Indonesia menjadi negatif oleh lembaga pemeringkat Moody’s dan Fitch Ratings.

Hingga Kamis (7/5/2026), pasar saham juga mencatatkan aliran modal keluar dengan net sell investor asing sebesar Rp49,03 triliun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun ikut menyusut 17,03 persen secara tahun berjalan ke posisi 7.174,32.

Kepala Unit Riset dan Market Informasi PHEI, Salvian Fernando, menjelaskan bahwa pelepasan aset di pasar SBN memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap fluktuasi rupiah. Hal ini dikarenakan SBN merupakan pintu masuk utama bagi modal asing ke Indonesia.

"Ketika investor asing melakukan penjualan SBN dalam jumlah besar, maka proses repatriasi dana dari rupiah ke dolar AS otomatis meningkatkan permintaan valas dan menekan nilai tukar rupiah," kata Salvian Fernando, Kepala Unit Riset dan Market Informasi PHEI.

Ia menambahkan bahwa pelemahan mata uang saat ini juga dipengaruhi oleh faktor eksternal global. Tingginya suku bunga dunia yang bertahan lama serta ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat memicu investor beralih ke aset aman.

"Apabila stabilitas rupiah mulai membaik, inflasi domestik tetap terkendali, serta terdapat ruang pelonggaran moneter global pada semester II/2026, maka yield SBN berpotensi mengalami normalisasi secara bertahap," tambah Salvian Fernando, Kepala Unit Riset dan Market Informasi PHEI.

PHEI memprediksi pergerakan yield SBN masih akan berada di level tinggi selama enam bulan pertama tahun 2026. Kondisi ini sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar serta kemampuan pemerintah dalam menjaga kredibilitas fiskal di mata investor global.

Artikel terkait

Rekomendasi