Jumlah investor pasar modal di Indonesia mencatatkan rekor baru dengan melampaui angka 20 juta Single Investor Identification (SID) pada akhir 2025. Pertumbuhan signifikan yang didominasi oleh investor individu domestik ini menunjukkan transformasi besar dalam struktur pasar keuangan nasional, Rabu (13/5/2026).
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang dilansir dari Detik Finance mencatat peningkatan dua kali lipat dibandingkan tahun 2022 yang hanya berjumlah 10 juta investor. Aktivitas transaksi harian di Bursa Efek Indonesia kini dikuasai oleh investor ritel dengan kontribusi nilai transaksi melampaui 50 persen.
Chief Executive Officer PT Ajaib Sekuritas Asia, Anderson Sumarli menilai lonjakan partisipasi ini sebagai pergeseran mendasar yang mengubah peran investor individu dalam ekosistem pasar modal. Peran teknologi digital disebut sebagai faktor utama yang meruntuhkan hambatan akses investasi bagi masyarakat luas.
"Investor ritel hari ini bukan lagi pelengkap, tetapi telah menjadi penopang utama likuiditas pasar. Ini perubahan yang sangat fundamental dalam struktur pasar kita. Kami melihat transformasi ini tidak terlepas dari peran teknologi yang membuat akses investasi menjadi jauh lebih mudah dan terjangkau, termasuk bagi investor pemula," kata Anderson Sumarli, Chief Executive Officer PT Ajaib Sekuritas Asia.
Platform aplikasi saat ini memungkinkan proses pembukaan akun menjadi lebih cepat serta biaya yang lebih kompetitif. Namun, Anderson menekankan bahwa pertumbuhan kuantitas tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kualitas pengambilan keputusan oleh para investor.
"Teknologi membuat akses investasi menjadi jauh lebih mudah dan terbuka bagi lebih banyak masyarakat. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan investor memahami risiko dan mampu mengambil keputusan yang tepat," jelas Anderson Sumarli, Chief Executive Officer PT Ajaib Sekuritas Asia.
Selain masalah akses, transparansi informasi menjadi pilar penting untuk membangun ekosistem investasi yang sehat di Indonesia. Program edukasi berkelanjutan dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional melalui pembiayaan dalam negeri.
"Karena itu, kami di Ajaib melihat edukasi menjadi sama pentingnya dengan akses dalam membangun ekosistem investasi yang sehat," sambung Anderson Sumarli, Chief Executive Officer PT Ajaib Sekuritas Asia.
Peningkatan jumlah investor domestik diprediksi akan menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang Indonesia. Partisipasi masyarakat lokal yang besar memperkuat fondasi sumber pembiayaan domestik dari guncangan dinamika global.
"Semakin besar partisipasi investor domestik, semakin kuat pula fondasi pembiayaan dalam negeri. Ini akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang," ujar Anderson Sumarli, Chief Executive Officer PT Ajaib Sekuritas Asia.
Pihak Ajaib menyatakan komitmennya untuk terus mengembangkan fitur analisis dan edukasi demi mendampingi investor pemula. Anderson meyakini bahwa kolaborasi antara inovasi teknologi dan talenta digital akan mempercepat tercapainya inklusi investasi yang berkelanjutan.
"Ekosistem investasi yang kuat tidak hanya ditentukan oleh jumlah investor, tetapi juga kualitas inovasi yang mendukungnya. Dengan semakin berkembangnya talenta digital, kami optimistis inklusi investasi di Indonesia dapat tumbuh secara lebih sehat dan berkelanjutan," jelas Anderson Sumarli, Chief Executive Officer PT Ajaib Sekuritas Asia.
Meskipun inklusi keuangan telah mencapai 85,10 persen, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan tingkat literasi keuangan baru menyentuh angka 49,68 persen. Kesenjangan ini menjadi perhatian regulator melalui penyusunan Roadmap Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen 2023-2027.
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Dicky Kartikoyono menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menghadapi tantangan literasi tersebut. Menurutnya, inovasi digital harus mampu memberikan dampak konkret bagi perekonomian nasional melalui solusi yang implementatif.
"Kolaborasi antara regulator, industri, dan talenta digital menjadi kunci untuk menghasilkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga dapat diimplementasikan secara luas dan berkelanjutan," tutup Dicky Kartikoyono, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia.