Investor domestik terus memanfaatkan reksadana berdenominasi dolar Amerika Serikat sebagai instrumen diversifikasi portofolio untuk menghadapi ketidakpastian pasar global pada Rabu (20/5/2026), dilansir dari Investasi.
Pilihan ini didorong oleh ketahanan nilai tukar dolar AS serta ketersediaan instrumen tersebut di berbagai kelas aset, mulai dari pasar uang, obligasi, hingga saham.
Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Dimas Ardhinugraha, menjelaskan bahwa produk investasi ini menawarkan keunggulan geografis melalui akses langsung ke pasar eksternal.
"Dari sisi geografis, reksadana saham offshore (investasi di efek luar negeri) dalam dolar AS tentunya menyuguhkan peluang bagi investor untuk menikmati potensi dari pasar negara dan kawasan lainnya," ujar Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).
Meskipun reksadana onshore dolar AS saat ini sedang menjalani fase penyesuaian akibat dinamika domestik serta global, fundamental ekonomi Indonesia yang kuat diproyeksikan mampu mendongkrak kinerja portofolio ini di masa depan.
Di sisi lain, produk offshore kelolaan MAMI menyasar sektor-sektor strategis dengan pertumbuhan pesat, seperti industri kecerdasan buatan (AI) yang memicu lonjakan permintaan infrastruktur semikonduktor, memori, dan komputasi.
Ekspansi teknologi tersebut juga meningkatkan kebutuhan pasokan energi berkelanjutan untuk operasional pusat data, sehingga membuka peluang investasi baru pada sektor energi bersih.
"Dari sisi mata uang, reksadana dolar tetap menarik sebagai instrumen diversifikasi, terutama karena dolar AS cenderung resilien di tengah volatilitas global. Bagi investor domestik, ini menjadi salah satu cara untuk menjaga nilai portofolio sekaligus mendapatkan eksposur ke aset global," terang Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).