Investor Rotasi Portofolio ke Saham Fundamental Kuat Saat Pasar Bergejolak

Investor Rotasi Portofolio ke Saham Fundamental Kuat Saat Pasar Bergejolak

Para investor mulai meracik kembali komposisi portofolio investasi dengan bermigrasi ke saham-saham berfundamental kuat di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) dan tingginya volatilitas mata uang rupiah hingga Rabu (20/5).

Data pasar modal yang dikutip dari Bloomberg menunjukkan indeks IDX Value30 menyusut 9,56 persen dalam sebulan terakhir ke level 125 pada Selasa (19/5), namun performa ini masih lebih baik dibanding IHSG yang merosot 16,11 persen ke posisi 6.370,68. Sementara itu, data sebelumnya mencatat IHSG terkoreksi hingga 23,15 persen year to date ke level 6.723,32 pada Rabu (13/5) akibat sentimen rebalancing MSCI dan FTSE Russel, disusul terpuruknya nilai tukar rupiah di pasar spot ke angka Rp 17.596 per dolar AS pada Jumat (15/5).

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menjabarkan tiga karakteristik pembenteng indeks IDX Value30, yaitu valuasi murah yang membatasi penurunan harga, fundamental solid dengan arus kas kuat, serta tingkat likuiditas tinggi.

"Koreksi yang lebih rendah dibandingkan IHSG dalam sebulan mengonfirmasi migrasi investor ke saham berkualitas di tengah ketidakpastian," ujarnya, Selasa (19/5/2026).

Abida menambahkan bahwa saham berbasis fundamental kuat secara historis memiliki potensi pemulihan yang lebih kokoh dan berkelanjutan daripada saham pertumbuhan berprestasi premium saat pasar mulai pulih.

"Momentum paling tepat masuk adalah saat rupiah mulai stabil dan net sell asing mulai melandai," tutur Abida.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty menjelaskan bahwa peningkatan volatilitas mendorong pelaku pasar melakukan rotasi portofolio dari saham pertumbuhan menuju saham defensif di sektor perbankan besar, telekomunikasi, energi, dan konsumer.

"Likuiditas tinggi juga penting karena memudahkan investor institusi melakukan akumulasi maupun keluar tanpa menekan harga terlalu dalam," ungkap dia, Selasa (19/5).

Arinda melihat prospek IDX Value30 tetap menarik karena saham berbasis valuasi biasanya mencatatkan kinerja lebih unggul pada tahap awal pemulihan pasar, meskipun pergerakannya akan berlangsung lebih gradual.

"Namun, kenaikan IDX Value30 kemungkinan akan lebih gradual dibanding saham lapis dua atau saham growth karena karakter indeks ini memang lebih defensif dan berbasis fundamental," jelas Arinda.

Untuk memitigasi risiko volatilitas yang masih tinggi, Arinda menyarankan strategi jangka menengah hingga panjang dengan memanfaatkan momentum panic selling melalui pembelian bertahap seperti buy on weakness, serta merekomendasikan saham TLKM dengan target Rp 3.900 dan ICBP dengan target Rp 10.000 per saham.

"Strategi bertahap seperti buy on weakness dan dollar cost averaging juga lebih relevan dibanding langsung masuk agresif di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi," terang dia.

Financial Planner sekaligus CEO and Founder Finansialku Melvin Mumpuni menegaskan bahwa fokus utama investor saat pasar terkoreksi adalah menjaga likuiditas serta kualitas aset melalui perhitungan matang, bukan karena kepanikan emosional.

"Di setiap kondisi seperti penurunan IHSG and kenaikan dolar AS, pasti ada potensi atau peluang," ujar Melvin Mumpuni, sebagaimana dilansir dari Investasi pada Jumat (15/5/2026).

Melvin memaparkan sejumlah instrumen alternatif berisiko rendah untuk lindung nilai, seperti emas dengan potensi imbal hasil 8 persen hingga 11 persen per tahun, SBN atau reksadana pendapatan tetap dengan kupon 6,5 persen sampai 7,5 persen, serta deposito atau reksadana pasar uang berimbal hasil 3 persen hingga 5 persen. Dirinya menyarankan alokasi aset berkisar antara 30 persen hingga 50 persen pada saham valuasi dan dividen, bergantung pada profil risiko investor agresif, moderat, maupun konservatif.

Artikel terkait

Rekomendasi