Insiden penjambretan telepon genggam milik seorang siswa sekolah dasar di Rawabunga, Jatinegara, Jakarta Timur, pada Senin (11/5/2026), resmi berakhir melalui jalur kekeluargaan. Kesepakatan damai ini tercapai setelah orang tua korban mendatangi kediaman pelaku guna menyelesaikan permasalahan secara langsung.
Penyelesaian perkara tersebut dikonfirmasi oleh pihak kepolisian berdasarkan pertemuan kedua belah pihak di wilayah Kampung Melayu. Dilansir dari Megapolitan, pelaku berkomitmen untuk menanggung seluruh dampak kerugian fisik maupun materiel yang dialami korban akibat aksi kejahatan jalanan tersebut.
Kapolsek Jatinegara Kompol Samsono memberikan keterangan mengenai hasil mediasi mandiri yang dilakukan oleh pihak keluarga korban dan pelaku tersebut.
"Sudah damai. Keluarga korban mendatangi pelaku ke rumahnya di Kampung Pulo, Kampung Melayu," kata Samsono.
Samsono menjelaskan bahwa dalam pertemuan itu terdapat poin-poin kesepakatan mengenai kompensasi biaya medis. Pelaku menyatakan kesediaan untuk membiayai pengobatan luka yang diderita korban saat mencoba mempertahankan barang miliknya.
"Diselesaikan secara kekeluargaan dengan mengganti biaya pengobatan. Namun tidak dibuatkan surat pernyataan, hanya perjanjian lisan dengan didampingi ketua RT alamat tinggal masing masing yang bersangkutan," ungkap Samsono.
Selain biaya medis, pelaku juga diharuskan mengganti ponsel korban yang mengalami kerusakan fisik. Perangkat komunikasi tersebut diketahui retak setelah terjatuh ke aspal dalam insiden tarik-menarik antara korban dan pelaku di lokasi kejadian.
Peristiwa ini bermula pada Senin (11/5/2026) siang saat korban sedang berjalan kaki di kawasan Rawa Bunga. Bocah tersebut secara berani mengejar dan sempat berpegangan pada sepeda motor pelaku demi menyelamatkan ponselnya yang dirampas secara paksa.
Sahlani, seorang petugas keamanan di lokasi kejadian, memberikan kesaksian mengenai situasi saat peristiwa itu berlangsung pada pukul 13.30 WIB ketika lingkungan sekitar sedang dalam kondisi sepi.
“Saya waktu itu belum istirahat, lagi ngepel, terus anak itu teriak-teriak ‘Tolong, tolong’. Nah, ada warga lain ikut teriak, ‘Jambret, jambret’, terus pada keluar,” ujar Sahlani.
Aksi nekat korban yang mengejar pelaku didasari oleh anggapan bahwa ponsel miliknya masih dibawa kabur oleh penjambret tersebut. Namun, kenyataannya barang bukti tersebut sudah terlepas dari genggaman dan tergeletak di jalanan.
“Padahal handphone-nya jatuh di jalan waktu tarik-tarikan,” kata Sahlani.