Menelusuri Jejak Landhuis Vredestein yang Kini Menjadi Asrama Veteran

Menelusuri Jejak Landhuis Vredestein yang Kini Menjadi Asrama Veteran

Di tengah lalu lalang truk kontainer dan debu yang beterbangan di Jalan Sungai Landak, Cilincing, Jakarta Utara, berdiri sebuah bangunan tua yang tersembunyi di balik deretan bangunan lain di tepi jalan.

Dari luar, tempat itu tampak seperti permukiman padat tak terawat. Namun, setelah memasuki bagian dalam, terlihat lorong panjang dengan langit-langit melengkung dan dinding bergaya kolonial yang masih tersisa.

Lantai berukuran besar di sepanjang lorong tampak mulai rusak dimakan usia. Di sejumlah sisi, cat dinding mengelupas dan memperlihatkan struktur bangunan lama.

Pintu dan jendela rumah warga berjejer di kanan-kiri lorong, menempel langsung pada struktur bangunan yang sudah berdiri sejak era kolonial.

Bangunan yang kini dikenal sebagai Asrama Perikanan Veteran dihuni sekitar 30 keluarga keturunan veteran TNI. Salah satunya adalah Sugiyo (72), warga yang telah tinggal di kompleks tersebut sejak kecil.

"Bapak saya dikirim ke sini tahun 1961," kata Sugiyo, warga.

Menurut Sugiyo, ayahnya merupakan anggota angkatan darat yang saat itu bertugas di area Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Sugiyo mengatakan, sejumlah anggota tentara dipindahkan untuk tinggal di kompleks tersebut pada awal 1960-an. Ia mengaku tidak mengetahui pasti sejarah awal bangunan tersebut.

"Peninggalan Belanda aja tahunya," kata Sugiyo, warga.

Meski begitu, jejak arsitektur kolonial masih terlihat di berbagai sudut bangunan.

Setelah keluar dari lorong utama, tampak area selasar dengan atap genteng tua yang ditopang besi cetak berwarna hijau. Sebagian atap sudah bolong dan lapuk, tetapi struktur besinya masih kokoh.

Ketua RT setempat, Linda, menyampaikan bahwa bangunan tersebut kini dihuni hingga tiga generasi keluarga veteran.

Sebagian besar penghuni tetap mempertahankan bentuk asli bangunan meski harus melakukan perbaikan secara mandiri.

"Kalau bocor ya kita perbaikan sendiri aja," kata Linda, Ketua RT.

Ia mengatakan, kondisi bangunan terus menua. Sejumlah genteng mulai rapuh dan mudah hancur.

"Kalau diangkat juga kayak kerupuk," jelas Linda, Ketua RT.

Di tengah kondisi itu, warga berharap ada bantuan revitalisasi tanpa mengubah bentuk asli bangunan.

"Harapannya ada dana masuk buat benerin, soalnya kalau hujan lumayan, genteng-gentengnya ini kan udah rapuh juga," ujar Linda, Ketua RT.

Berdasarkan arsip Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, bangunan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat provinsi melalui SK Gubernur No. 475 Tahun 1993.

Disebutkan bahwa bangunan itu memiliki nama asli Landhuis Vredestein dan diperkirakan dibangun pada 1740-an oleh tuan tanah Justinus Vinck.

Dalam catatan sejarah, bangunan itu pernah digunakan tentara Inggris sebagai markas saat invasi ke Batavia pada 1811.

Pada awal abad ke-20, kawasan itu berada di bawah kekuasaan tuan tanah Oey Tong Hin.

Buku laporan resmi Pemerintah Hindia Belanda, Particuliere Landerijen, Batavia (data per 1 Januari 1917) mencatat wilayah kekuasaannya di Cilincing mencapai sekitar 1.121 hektare dengan lebih dari 2.200 penduduk.

Bangunan itu bahkan sudah didokumentasikan dalam laporan laporan Dinas Purbakala Hindia Belanda, Oudheidkundig Verslag, Derde en Vierde Kwartaal pada 21 Oktober 1929.

Arsip itu mencatat keberadaan gerbang utama, serambi luas, ruang makan besar, hingga kelenteng di dalam kompleks.

Namun hal itu berubah dalam kurun waktu tidak sampai puluhan tahun.

Surat kabar Hindia Belanda "Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie" edisi 14 November 1935 menulis bangunan tersebut telah kosong dan terbengkalai setelah pemiliknya jatuh miskin akibat utang.

Dalam arsip surat kabar itu, Landhuis Cilincing dijuluki “Roemah Setan” oleh warga sekitar karena kondisinya yang dipenuhi debu dan sarang laba-laba.

Hampir seratus tahun setelah disebut "Roemah Setan", bangunan kolonial tersebut masih dihuni puluhan keluarga di Cilincing.

Bagi sebagian penghuninya, tempat itu sudah menjadi rumah yang diwariskan lintas generasi.

Artikel terkait

Rekomendasi