Seorang jemaah haji bernama Abd. Aziz bin Rafi’i asal Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dilaporkan meninggal dunia di sebuah hotel di Mekkah usai melaksanakan ibadah wukuf di Arafah, dilansir dari Cahaya pada Kamis (28/5/2026).
Warga Desa Prambanan, Kecamatan Gayam yang tergabung dalam kelompok terbang SUB 79 tersebut didampingi oleh sang istri selama beribadah di Tanah Suci, dan jenazahnya dipastikan akan dimakamkan di Mekkah.
Pihak berwenang mengonfirmasi adanya pemulangan awal bagi puluhan jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu demi keselamatan mereka selama fase puncak haji.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sumenep, Ahmad Halimy menjelaskan bahwa pihak otoritas masih mengumpulkan data medis terperinci mengenai peristiwa wafatnya warga Sumenep tersebut.
"Kronologi kami belum dapat, karena kan di rumah sakit Saudi," kata Halimy, Kamis (28/5/2026).
Pemulangan lebih awal dilakukan bagi kelompok jemaah risiko tinggi agar mereka mendapatkan penanganan dan istirahat yang memadai di penginapan.
"Setelah wukuf sudah selesai, meninggalnya di hotel," tambahnya.
Menurunnya kondisi fisik dari jemaah yang bersangkutan disinyalir berkaitan erat dengan faktor usia yang telah lanjut saat berada di Arab Saudi.
"Faktor usia juga, karena sudah sepuh," tuturnya.
Evaluasi kesehatan berkala juga terus dilakukan terhadap jemaah lain dari kloter yang sama untuk mengantisipasi penurunan kondisi fisik akibat kelelahan.
"Kami dapat laporan yang dirawat di rumah sakit tidak ada. Tapi kalau yang dirawat di hotel ada," ujar Halimy.
Berdasarkan data pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan, mayoritas calon jemaah haji dari wilayah tersebut memang sudah diidentifikasi memiliki kerentanan kesehatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Sumenep, Achmad Syamsuri membenarkan persentase jemaah risti yang cukup mendominasi total kuota keberangkatan daerah.
"Sekitar 60 persen memang masuk risti," kata dia saat dihubungi Kompas.com, Jumat (3/4/2026) lalu.
Tim medis memberikan pengawasan ketat kepada para jemaah lansia dan penderita penyakit penyerta agar bisa menyelesaikan ibadah dengan aman.
"Kelompok ini jadi perhatian khusus, karena memiliki potensi gangguan kesehatan selama menjalankan ibadah haji," jelasnya.