Tingkat pengangguran di Indonesia masih menjadi tantangan besar meskipun angkanya menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di tanah air mencapai 7,24 juta orang pada Februari 2026.
Dikutip dari Money, tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 4,68 persen dari total 154,91 juta angkatan kerja. Hal ini berarti sekitar lima dari 100 orang dalam angkatan kerja belum terserap oleh pasar tenaga kerja.
Kesenjangan antara kemampuan kandidat dan kebutuhan perusahaan menjadi hambatan utama dalam ekosistem ketenagakerjaan saat ini. Kondisi ini dirasakan oleh semua kalangan, mulai dari lulusan baru hingga profesional level senior.
Perusahaan teknologi rekrutmen TalentGO.AI mengidentifikasi adanya fenomena "The Great Preparation Gap" atau kesenjangan kesiapan. Banyak pelamar dianggap gagal mengomunikasikan nilai diri mereka melalui CV dan proses wawancara secara efektif.
CEO & Founder TalentGO.AI, Valencia Gabriella, mengungkapkan bahwa mayoritas kandidat masih salah dalam memandang proses pencarian kerja. Menurutnya, fokus pelamar sering kali hanya pada kuantitas pengiriman lamaran, bukan pada kualitas persiapan.
"Misi TalentGO.AI adalah mendemokratisasi akses terhadap persiapan kerja berkualitas tinggi. Kami percaya bahwa setiap orang berhak mendapatkan bimbingan karier yang objektif. Dalam hal ini, kami melihat banyak kandidat memandang proses pencarian kerja sebagai soal kuantitas: semakin banyak lamaran yang dikirim, semakin besar peluang untuk dipanggil," ujar Valencia.
Ia menambahkan bahwa dalam sistem rekrutmen modern, kualitas kesiapan merupakan faktor pembeda yang sangat krusial. Relevansi CV, ekspektasi gaji berbasis data, dan kemampuan menjelaskan pengalaman secara terstruktur menjadi kunci utama.
"Padahal, dalam rekrutmen modern, kualitas kesiapan justru menjadi pembeda. CV harus bisa menunjukkan relevansi, ekspektasi gaji harus berbasis data pasar, dan saat interview kandidat perlu mampu menjelaskan pengalaman dengan struktur yang masuk akal bagi rekruter," kata Valencia.
Tren rekrutmen saat ini semakin bergantung pada teknologi digital, termasuk penggunaan Applicant Tracking System (ATS). Sistem ini membuat CV tidak lagi hanya dibaca oleh manusia, tetapi harus dioptimalkan agar terbaca oleh algoritma.
Riset menunjukkan bahwa sekitar 80 persen lamaran kerja gugur di tahap awal karena CV yang tidak ramah sistem ATS. Padahal, penyesuaian sederhana pada judul pekerjaan dapat meningkatkan peluang panggilan wawancara hingga 3,5 kali lipat.
TalentGO.AI kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu kandidat memperbaiki tiga titik lemah utama. Fokus tersebut meliputi perbaikan kualitas CV, simulasi persiapan wawancara, serta penentuan ekspektasi kompensasi yang realistis.
Banyak pelamar kerja ditemukan hanya menuliskan daftar tugas tanpa menunjukkan indikator keberhasilan atau kontribusi nyata. Selain itu, ketidaksesuaian ekspektasi gaji dengan rentang anggaran perusahaan sering menjadi ganjalan sejak awal seleksi.
Latihan berbasis skenario dan umpan balik objektif dinilai sangat membantu kandidat agar dapat memberikan jawaban yang konkret dan mudah dipahami rekruter. Penggunaan AI diposisikan sebagai pendamping karier pribadi bagi para pelamar.
"AI dalam konteks ini bukan pengganti keputusan manusia. Kami melihat AI sebagai ‘Career Coach’ pribadi bagi setiap kandidat untuk mendampingi perjalanan karier seseorang," ujar Valencia.
Teknologi AI ini juga dapat memberikan rekomendasi pelatihan untuk peningkatan keterampilan serta membantu negosiasi gaji berdasarkan data pasar secara real-time. Di sisi lain, perusahaan juga diuntungkan dengan proses seleksi yang lebih efisien dan akurat.
Ke depan, peran teknologi diprediksi akan bergeser dari sekadar alat pencari kerja menjadi mitra persiapan karier yang komprehensif. Hal ini penting untuk membantu kandidat memetakan kemampuan di tengah pasar kerja yang bergerak sangat cepat.