Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Perante, Kecamatan Situbondo, memanfaatkan teknologi Google Form dan WhatsApp untuk mempercepat penanganan stunting dan tuberkulosis pada Jumat (29/5/2026).
Langkah digitalisasi ini diluncurkan untuk mempermudah proses pendataan serta mengatasi hambatan psikologis warga yang kerap merasa malu memberikan informasi kesehatan secara langsung. Program penanganan terintegrasi di desa tersebut difasilitasi melalui inovasi bernama Kardas Centing Tosis (Kartu Cerdas Cegah Stunting dan Tuberculosis) yang sudah diinisiasi sejak tahun 2023.
Dilansir dari Detik iNET, inisiatif penggabungan penanggulangan kedua penyakit ini didasari oleh keterkaitan erat antara infeksi tuberkulosis dan gangguan pertumbuhan pada anak. Melalui sistem ini, data kesehatan dari sekitar 200 anak terkait stunting dan skrining tuberkulosis bagi 500 hingga 600 warga berhasil dihimpun dari total populasi desa yang mencapai hampir 1.000 jiwa.
Wakil Ketua TP PKK Desa Perante, Farhana, menjelaskan bahwa sejauh ini belum ada program yang mengintegrasikan penanganan tuberkulosis dan stunting secara bersamaan.
"Setelah saya cari-cari, ternyata belum ada yang menyatukan dua masalah terkait TB dan stunting. Di sini, kami mencoba menyelesaikan dua masalah ini dalam satu penanganan," aku Farhana.
Perempuan yang juga berprofesi sebagai guru di MIM Perante tersebut memaparkan bahwa penyakit tuberkulosis dan kondisi stunting pada anak saling memengaruhi layaknya lingkaran setan yang menghambat tumbuh kembang optimal.
"Kalau sudah kena stunting, nggak bisa 1-2 bulan tindakannya, itu harus ditindak bertahun-tahun mendatang, mungkin 2-3 tahun. Kalau anak kena stunting, keluarga harus dicek kena TB atau nggak," jelasnya.
Sistem pendataan berbasis formulir digital ini didistribusikan secara berjenjang melalui koordinasi internal kader kesehatan desa untuk menjaga efisiensi penjangkauan.
"Google Form ini hanya dibagikan lewat grup WhatsApp Kader Posyandu. Tak hanya mengandalkan Google Form dan edukasi di WhatsApp, kami juga memberikan penyuluhan workshop mengenai bahaya TB dan stunting," tegas Hana.
Intervensi lanjutan langsung dilakukan berupa pemberian makanan tambahan gratis selama satu bulan bagi anak yang terindikasi stunting setelah berkoordinasi dengan bidan desa dan tenaga kesehatan posyandu.
"Waktu itu aku sudah mulai ikut menyalurkan PMT 2024. Ternyata ada beberapa anak yang di 2025 nggak mendapatkan PMT lagi. Waktu itu aku tanya ke kadernya "Kenapa nggak dapat lagi?", dijawabnya "Anak ini sudah sehat, anaknya nggak stunting lagi"," kisahnya.
Bagi warga yang mengalami kendala akses digital atau belum mengisi formulir daring, tim penggerak PKK menerapkan metode kunjungan langsung ke rumah-rumah penduduk guna memastikan seluruh populasi desa terdata sepenuhnya.