Suasana duka masih menyelimuti Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, setelah insiden kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL relasi Jakarta–Cikarang. Berdasarkan pantauan di lokasi, petugas PT Kereta Api Indonesia (KAI) sibuk menata ratusan buket bunga yang terus berdatangan.
Dikutip dari Megapolitan, tumpukan bunga berbagai warna tersebut kini menghiasi sejumlah titik strategis di stasiun, mulai dari pintu masuk hingga area peron. Keberadaan bunga-bunga ini menjadi simbol penghormatan bagi 16 korban yang dinyatakan meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
Hingga lebih dari satu pekan setelah kejadian, gelombang pengiriman pesan duka dan karangan bunga dari masyarakat belum juga berhenti. Masyarakat terus menunjukkan empati mereka melalui bunga-bunga yang diletakkan di sisi rel dan area stasiun.
Hasna Shabila (25), salah seorang pengunjung stasiun, memberikan apresiasi atas langkah petugas KAI yang bersedia merawat pemberian masyarakat tersebut. Ia menilai inisiatif ini sangat penting untuk menjaga kehormatan suasana duka.
"Dengan cara itu, bunga-bunga yang dipersembahkan kepada para korban terus tumbuh ‘harum’ di Stasiun Bekasi Timur. Jadi semuanya terkenang dengan baik," ujar Hasna saat ditemui di lokasi, Selasa 5 Mei 2026.
Bagi Hasna, deretan bunga tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan pengingat bagi para pengguna layanan kereta api mengenai peristiwa memilukan itu. Ia berharap perawatan rutin tetap dilakukan agar area stasiun tidak terkesan kumuh karena bunga yang layu.
"Hal ini juga mengingatkan saya sebagai pengguna KRL, bagaimana kuatnya para perempuan waktu itu," tutur Hasna.
"Jadi tidak menjadikan Bekasi Timur sebagai tempat yang seram, tapi jadi lebih indah," tambah Hasna.
Sugiyanto (50), pengunjung lainnya, mengaku terharu melihat sinergi antara empati publik dan respon positif dari pihak pengelola stasiun. Ia merasa tindakan KAI merawat bunga tersebut mencerminkan rasa kehilangan yang kolektif.
"Di satu sisi masyarakat masih berdatangan membawa bunga, dan KAI menyambutnya dengan merawat dengan baik. Saya merasa ini simbol bahwa semua orang ikut merasakan kehilangan," kata Sugiyanto.
Menanggapi fenomena ini, VP Corporate Secretary KAI Commuter (KCI), Karina Amanda, menyatakan bahwa perawatan bunga tersebut merupakan bentuk apresiasi perusahaan terhadap rasa duka publik. Pihaknya memastikan tidak ada prosedur rumit dalam penanganannya.
"Sebenarnya tidak ada instruksi khusus untuk perawatannya, hanya disemprot dengan air saja untuk membantu menjaga kondisi bunga yang telah diletakkan," ujar Karina.
Seluruh bunga tersebut merupakan kiriman spontanitas dari warga sejak satu hari setelah kecelakaan maut yang terjadi pada 27 April 2026. KAI berencana melakukan pemilahan secara berkala untuk menjaga kebersihan stasiun.
"Bunga yang sudah mengering akan dipisahkan agar area tetap terjaga kerapian dan keindahannya. Sementara wacana terkait taman atau memorial akan dibahas lebih lanjut," jelas Karina.
Pihak manajemen memastikan bahwa keberadaan ratusan karangan bunga di area stasiun tidak mengganggu kelancaran operasional kereta maupun pelayanan bagi penumpang. KAI menyampaikan terima kasih atas simpati yang diberikan oleh masyarakat luas.
"Kami berterima kasih dan mengapresiasi seluruh masyarakat yang berempati atas peristiwa ini. Harapan kami, ini menjadi peristiwa terakhir dan tidak akan terulang kembali," pungkas Karina.
Kecelakaan maut tersebut sebelumnya terjadi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920 pada Senin 27 April 2026 sekitar pukul 20.52 WIB. Insiden melibatkan KRL jurusan Cikarang bernomor PLB 5568A dan KA Argo Bromo Anggrek tujuan Surabaya.
Peristiwa ini mencatat total 106 korban, di mana 16 orang meninggal dunia dan 90 lainnya mengalami luka-luka. Sementara itu, sebanyak 240 penumpang yang berada di dalam KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat dalam kejadian tersebut.