KAI Tutup 11 Perlintasan Liar Antara Stasiun Tebet dan Cawang

KAI Tutup 11 Perlintasan Liar Antara Stasiun Tebet dan Cawang

PT KAI Daop 1 Jakarta berencana menutup belasan perlintasan tidak resmi di sepanjang jalur rel antara Stasiun Tebet dan Stasiun Cawang, Jakarta Selatan. Langkah sterilisasi ini dilakukan demi menjamin keselamatan perjalanan kereta api serta keamanan warga sekitar pada Selasa (12/5/2026), sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Pemerintah setempat melalui Wakil Camat Tebet, Bayu Fadayen Gantha, memberikan konfirmasi bahwa proses pendataan titik-titik ilegal tersebut telah selesai dilakukan. Koordinasi intensif terus berjalan antara pihak kecamatan dengan petugas dari kedua stasiun tersebut.

“Tadi kalau kami survei ada 11 titik, prioritas kami sekarang masih untuk pengguna jalan, tapi nanti akan kami rapatkan kembali untuk berapa titik yang nanti akan ditutup,” kata Bayu Fadayen Gantha, Wakil Camat Tebet.

Pihak kecamatan selanjutnya mengagendakan survei lanjutan untuk memantau kondisi perlintasan rel di area lain. Fokus pemantauan berikutnya akan menyisir wilayah antara Stasiun Manggarai hingga Stasiun Tebet.

Rencana penutupan ini memicu beragam tanggapan dari penduduk sekitar, termasuk Bela (39) yang biasa melintasi rel untuk keperluan sekolah anaknya. Meski setuju dengan aturan pemerintah, ia mengharapkan adanya kebijakan khusus agar mobilitas warga tidak lumpuh total.

“Ya kalau memang dari pemerintah maunya begitu ya enggak apa-apa (ditutup). Tapi jangan semua, sisain satu lah,” kata Bela, seorang warga.

Permintaan tersebut didasari oleh kekhawatiran warga akan jarak tempuh yang menjadi lebih jauh jika seluruh akses ditutup. Para pengendara harus memutar melalui Jalan KH Abdul Syafei atau Jalan MT Haryono untuk mencapai kawasan Kebon Baru.

Berbeda dengan Bela, warga lainnya yakni Rahma (27) menilai bahwa penutupan jalur merupakan konsekuensi tinggal di area jalur kereta api. Ia lebih menyoroti masalah kerusakan fasilitas pengamanan di pinggir rel yang kerap disalahgunakan.

“Setuju sih kalau saya. Kalau dibilang muternya jauh, ya sudah risiko,” kata Rahma, warga sekitar.

Selain faktor keamanan, Rahma mengeluhkan banyaknya tumpukan sampah di celah-celah pagar yang rusak. Ia menduga area rel menjadi lokasi pembuangan sampah ilegal oleh oknum yang menghindari biaya iuran kebersihan.

“Banyak banget, pada enggak mau bayar uang sampah, jadi pada dibuangin ke sana,” kata Rahma.

Rahma mendesak PT KAI untuk melakukan perbaikan permanen pada pagar pembatas agar tidak ada lagi akses masuk bagi warga ke area berbahaya tersebut.

Merespons situasi tersebut, Manajer Humas PT KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, memastikan bahwa perbaikan sarana pengaman jalur kereta akan segera dilaksanakan. Pihaknya berencana memanfaatkan material yang tersedia untuk memperkuat pembatas area operasi.

“Untuk pagar yang rusak, rencana akan kami pasang pagar dari rel bekas yang tidak terpakai dan sampah-sampahnya bersama kewilayahan akan kami bersihkan,” kata Franoto Wibowo, Manajer Humas PT KAI Daop 1 Jakarta.

Franoto menjelaskan bahwa target besar perusahaan tahun ini adalah menutup total 52 perlintasan sebidang liar di seluruh wilayah Daop 1 Jakarta. Hingga saat ini, sembilan titik di antaranya telah berhasil ditutup secara permanen.

“Betul, untuk keselamatan perjalanan kereta api dan masyarakat, perlintasan-perlintasan liar yang membahayakan akan kami tutup,” tutur Franoto Wibowo.

PT KAI menyatakan akan melakukan pengkajian ulang mengenai aspirasi warga yang meminta penyediaan satu akses penyeberangan di lokasi tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi