Peningkatan fitur KRL Green Line atau lintas Tanah Abang-Rangkasbitung tengah dipersiapkan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan. Langkah modernisasi ini mencakup penguatan sistem kelistrikan dan pembaruan sistem persinyalan pada jalur yang dikenal sangat padat tersebut.
Jalur KRL Green Line bertindak sebagai salah satu urat nadi transportasi yang menghubungkan area permukiman di barat Jabodetabek dengan pusat ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan layanan publik di Jakarta. Seperti dilansir dari Detik Finance, kepadatan tinggi di lintasan ini dipicu oleh keterbatasan kapasitas sarana serta infrastruktur yang ada.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk merespons kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus melonjak.
"Permintaan masyarakat terhadap layanan Commuter Line Rangkasbitung terus meningkat. Karena itu, KAI bersama DJKA Kementerian Perhubungan menyiapkan berbagai langkah peningkatan kapasitas agar perjalanan pelanggan menjadi lebih nyaman dan tersedia lebih banyak pilihan perjalanan," ujar Bobby dalam keterangannya, Minggu (7/6/2026).
Berdasarkan data KAI, volume pengguna KRL Rangkasbitung melonjak signifikan setiap tahun. Tercatat ada 43.317.716 pelanggan pada 2022, lalu naik menjadi 62.085.471 orang pada 2023. Angka ini terus mendaki hingga 69.999.362 pergerakan pada 2024, dan menyentuh 77.552.716 penumpang pada 2025. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, jumlah pengguna bahkan telah menembus 33.397.420 orang.
Lonjakan penumpang ini membuat tingkat okupansi pada jam sibuk di Rangkasbitung Line mencapai 161%, angka tertinggi di antara seluruh rute Commuter Line. Sebagai perbandingan, tingkat okupansi puncak untuk lintas Bogor berada di angka 130%, sedangkan rute Bekasi/Cikarang berkisar di angka 140%.
Program pembenahan KRL Green Line akan diawali dengan memperkuat sistem Listrik Aliran Atas (LAA). Saat ini daya listrik di rute Tanah Abang-Rangkasbitung baru mencapai 3.000 volt, tertinggal dari lintas Bogor dan Bekasi yang sudah disokong daya sebesar 4.000 volt.
Keterbatasan daya ini berimbas pada belum bisa dioperasikannya rangkaian kereta dengan stamformasi 12 (SF 12). Akibatnya, angkutan penumpang saat ini masih bertumpu pada rangkaian kereta dengan formasi 8 dan 10 kereta.
Guna mengatasi hambatan daya tersebut, KAI bakal mendirikan 11 gardu traksi baru di sepanjang jalur Tanah Abang-Rangkasbitung. Penambahan pasokan daya ini menjadi fondasi utama agar pengoperasian rangkaian kereta SF 12 bisa segera terealisasi.
Kehadiran kereta berkapasitas lebih besar diproyeksikan mampu mengangkut lebih banyak penumpang dalam sekali jalan. Langkah ini sekaligus akan memberikan ruang gerak yang lebih longgar bagi pelanggan saat jam-jam sibuk.
Sinergi antara KAI dan DJKA Kementerian Perhubungan selaku regulator mencakup perencanaan teknis yang matang. Kerja sama ini berfokus pada penguatan kelistrikan, perluasan kapasitas lintas, hingga pembaruan sistem operasi demi menjawab pertumbuhan mobilitas masyarakat.
Modernisasi Sistem Persinyalan dan Pemangkasan Headway
Fokus perbaikan lainnya terletak pada modernisasi sistem persinyalan kereta. Sebagian jalur di lintas Rangkasbitung terpantau masih mengadopsi pola blok tertutup yang membatasi volume perjalanan karena satu blok stasiun hanya boleh diisi satu kereta dalam waktu bersamaan.
Sistem lama ini berisiko memicu jarak antar-kereta atau headway yang cukup lama, yakni berada di kisaran 10 menit. Kondisi ini kontras dengan rute Bekasi dan Bogor yang sudah mampu melayani perjalanan dengan waktu tunggu hanya 3 hingga 4 menit.
Pembaruan sistem persinyalan ini diyakini akan mendongkrak kapasitas lintas secara signifikan. Melalui sistem yang modern, frekuensi perjalanan kereta dapat ditambah sehingga waktu tunggu penumpang di stasiun menjadi jauh lebih singkat.
Penambahan frekuensi perjalanan ini bakal memberikan fleksibilitas tinggi bagi masyarakat untuk mengatur waktu keberangkatan maupun kepulangan. Pilihan perjalanan yang melimpah juga akan memecah penumpukan penumpang agar distribusi pengguna jasa commuter line bisa lebih merata.
"Peningkatan kapasitas harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sarana, daya listrik, hingga sistem persinyalan. Dengan langkah tersebut, kapasitas angkut dapat bertambah dan masyarakat memperoleh layanan yang semakin baik," tambah Bobby.