Sebanyak tiga kapal tanker super berkapasitas total enam juta barel minyak mentah Timur Tengah berhasil melintasi Selat Hormuz pada Rabu (20/5) untuk melakukan ekspor ke Asia setelah tertahan di Teluk selama lebih dari dua bulan akibat konflik di wilayah tersebut.
Pengiriman komoditas energi ini menjadi sorotan di tengah ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel sejak akhir Februari lalu. Dilansir dari Detik Finance, data pelayaran terkini dari LSEG dan Kpler menunjukkan volume lalu lintas transit di jalur strategis tersebut kini mulai kembali menunjukkan pergerakan.
Salah satu armada yang terkonfirmasi keluar dari Selat Hormuz adalah Universal Winner, sebuah kapal tanker minyak mentah super besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC) yang berbendera Korea Selatan. Kapal ini bergerak menyusul dua kapal tanker asal China yang sudah lebih dulu berangkat pada hari yang sama.
Universal Winner membawa muatan dua juta barel minyak mentah dari Kuwait yang telah dimuat sejak awal Maret lalu. Berdasarkan manifes Kpler, kapal tersebut dijadwalkan tiba di Ulsan pada awal Juni mendatang untuk membongkar muatan di fasilitas kilang minyak milik SK Energy.
Kendati ketegangan sempat menurunkan intensitas pelayaran secara drastis dari rata-rata ratusan kapal per hari, otoritas keamanan maritim mencatat sekitar sepuluh kapal termasuk kapal kargo kecil dan tanker kimia masih beroperasi melintasi kawasan Teluk dalam waktu satu hari terakhir.
Meski terdapat aktivitas pelayaran yang mulai berjalan, situasi di jalur laut tersebut dinilai masih menyimpan potensi bahaya yang besar bagi keselamatan kru dan muatan kapal.
"Lingkungan operasi tetap berisiko tinggi berdasarkan serangan baru-baru ini terhadap kapal-kapal di area tersebut. Beberapa contoh penyapaan agresif dan tindakan tegas oleh unit-unit Iran telah tercatat dalam 48 jam terakhir,," kata Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dipimpin Angkatan Laut AS.
Pihak pemilik kapal maupun operator kilang minyak tujuan hingga saat ini belum memberikan keterangan resmi lebih lanjut mengenai operasional armada mereka melewati jalur rawan tersebut.