Kecemasan Investor terhadap Kebijakan Sentralisasi Ekspor

Kecemasan Investor terhadap Kebijakan Sentralisasi Ekspor

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan pelaku pasar modal tidak hanya melihat tujuan akhir kebijakan, tetapi juga melihat proses, timing, dan risiko implementasinya.

“Di sinilah sumber kecemasan investor muncul. Pengumuman dilakukan secara relatif mendadak dengan masa transisi yang singkat, sementara mekanisme teknisnya belum sepenuhnya jelas,” katanya kepada Kontan, Minggu (24/5/2026).

Dia juga menyoroti peringatan dari Moody’s dan S&P sebenarnya menjadi sinyal yang cukup serius. Pasar global membaca sentralisasi ekspor berpotensi menciptakan distorsi pasar apabila implementasinya tidak berjalan efisien.

Menakar Dampak Pidato Ekonomi Prabowo di Rapat Paripurna DPR terhadap IHSG

Arah IHSG bergantung pada pidato Presiden Prabowo hari ini. Akankah pasar menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah?

4 BPR Merger Hasilkan Bank Beraset Rp 1,04 Triliun

"Dalam kondisi IHSG yang sebelumnya sudah tertekan cukup dalam akibat capital outflow asing dan pelemahan rupiah, sentimen seperti ini otomatis memperbesar risk premium pasar Indonesia," jelas Hendra.

Untuk emiten energi dan batubara, kata Hendra, dampaknya kemungkinan akan terbagi menjadi dua fase. Dalam jangka pendek hingga fase implementasi penuh September 2026, tekanan volatilitas masih berpotensi tinggi.

Menurutnya, emiten yang selama ini sangat bergantung pada pasar ekspor spot kemungkinan paling sensitif karena fleksibilitas penjualan mereka berpotensi berkurang.

Hendra bilang investor juga mulai menghitung kemungkinan kenaikan biaya distribusi dan administrasi ekspor. Ini yang membuat saham-saham seperti ADRO, INDY, HRUM hingga BUMI sempat mengalami koreksi cukup tajam.

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa mengatakan memang kebijakan ekspor satu pintu punya tujuan positif, tetapi investor saat ini melihat ada risiko bertambahnya birokrasi.

"Hal ini berpotensi menurunkan fleksibilitas ekspor dan kekhawatiran margin emiten bisa tertekan akibat adanya layer tambahan dalam alur perdagangan," kata dia.

Bagi investor yang sudah punya posisi pada saham-saham terkait, Reydi menyarankan investor untuk tidak perlu panic selling, tetapi sebaiknya mulai lebih disiplin mengelola profit.

"Dan mengurangi eksposur di saham yang valuasinya sudah terlalu tinggi atau sangat bergantung pada ekspor. Fokus bisa bergeser ke emiten big caps yang lebih defensif dan likuid," jelasnya.

Sementara itu, Hendra menyarankan bagi investor yang saat ini masih berada dalam posisi rugi, panic selling justru kurang ideal apabila dilakukan di area koreksi dalam

Menurutnya, investor juga harus lebih aktif memantau perkembangan aturan teknis lanjutan karena detail implementasi nantinya akan sangat menentukan arah sentimen pasar berikutnya.

"Strategi buy and hold pasif tampaknya mulai kurang relevan di situasi sekarang. Pendekatan yang lebih tepat adalah buy and monitor actively," ucap Hendra.

Meski begitu, Hendra menyebut ada beberapa saham yang bisa dicermati oleh investor. Dari sektor batubara ada PTBA, ITMG dan ADRO. Sementara untuk sektor CPO ada, AALI dan TAPG.

"Sebaliknya, untuk emiten sawit yang sangat bergantung pada ekspor murni dengan fleksibilitas operasional lebih terbatas, investor sebaiknya lebih berhati-hati sampai aturan teknis benar-benar jelas," katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi