Kekhawatiran Inflasi Global Tekan Indeks Saham Wall Street

Kekhawatiran Inflasi Global Tekan Indeks Saham Wall Street

Tiga indeks utama bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah signifikan pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026, setelah para investor beralih ke obligasi pemerintah akibat kekhawatiran inflasi global dan lonjakan harga minyak. Penurunan ini dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang mengancam keberlanjutan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Indeks Nasdaq mencatat koreksi paling dalam sebesar 1,54 persen menjadi 26.225,15, sementara S&P 500 turun 1,24 persen ke level 7.408,50 dan Dow Jones melemah 1,07 persen ke posisi 49.526,17. Tekanan di pasar obligasi juga meningkat dengan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Mei 2025.

Kondisi pasar yang memburuk ini memicu ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Berdasarkan data CME FedWatch Tool yang dikutip Kontan, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember kini melonjak mendekati 40 persen dari posisi pekan sebelumnya yang hanya 13,6 persen.

Kepala Strategi Pasar Slatestone Wealth, Kenny Polcari, berpendapat bahwa pergerakan pasar saham sebelumnya sudah terlalu jauh dari perkiraan ekonomi riil.

"Pasar sudah bergerak terlalu jauh dan kurang memperhatikan sinyal dari pasar obligasi maupun data ekonomi," ujarnya Kenny Polcari, Kepala Strategi Pasar Slatestone Wealth.

Sentimen negatif pasar diperparah oleh minimnya hasil nyata dalam pertemuan bilateral antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping terkait konflik Iran serta isu perdagangan. Selain itu, masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve resmi berakhir pada hari yang sama dan digantikan oleh Kevin Warsh.

Managing Partner Keator Group, Matthew Keator, menyoroti ekspektasi para pelaku pasar terhadap hasil pertemuan tingkat tinggi antara kedua pemimpin negara tersebut.

"Pasar sebenarnya berharap ada komitmen besar dari pertemuan tersebut," kata Matthew Keator, Managing Partner Keator Group.

Di sektor korporasi, saham energi menjadi satu-satunya sektor di S&P 500 yang menguat sebesar 2,3 persen menyusul kenaikan harga minyak mentah. Sebaliknya, saham sektor teknologi dan semikonduktor jatuh dengan saham NVIDIA anjlok 4,4 persen, Advanced Micro Devices turun 5,7 persen, dan Intel merosot 6,2 persen.

Penjualan saham secara masif mendominasi Bursa Efek New York dengan jumlah saham yang turun mencapai hampir empat kali lipat dibandingkan saham yang naik. Volume transaksi di seluruh bursa Amerika Serikat melonjak menjadi 19,32 miliar saham, melampaui rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 18,13 billion saham.

Artikel terkait

Rekomendasi