Kelangkaan MinyaKita Paksa Pedagang Gorengan Jakarta Beralih ke Minyak Curah

Kelangkaan MinyaKita Paksa Pedagang Gorengan Jakarta Beralih ke Minyak Curah

Kelangkaan pasokan MinyaKita di tingkat pengecer mulai berdampak langsung pada kelangsungan usaha makanan kecil di Jakarta. Sejumlah pedagang makanan kini memilih untuk tidak lagi menggunakan minyak goreng rakyat tersebut karena ketersediaannya yang semakin sulit ditemukan.

Seperti dikutip dari Suara, kondisi ini dialami oleh Yatno, seorang pedagang gorengan di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Ia menjelaskan bahwa dirinya sempat mengandalkan MinyaKita untuk menekan biaya operasional karena harganya yang lebih terjangkau dibandingkan merek kemasan lain.

Namun, keterbatasan pasokan belakangan ini membuat Yatno harus mengambil langkah cepat dengan mengalihkan kebutuhan usahanya ke minyak goreng curah atau merek alternatif.

"Dulu pernah pakai MinyaKita. Sekarang sudah enggak lagi karena susah nyarinya," kata Yatno.

Yatno menegaskan bahwa operasional usahanya tidak boleh terhenti hanya karena bergantung pada satu merek dagang. Saat stok di agen langganannya kosong, ia segera mencari opsi lain agar proses produksi tetap berjalan demi menjaga kelangsungan bisnis.

Walaupun harga minyak goreng kemasan lain cenderung lebih tinggi, pilihan tersebut dinilai lebih aman demi menjamin kepastian ketersediaan barang di pasar.

"Kalau enggak pakai merek lain ya pakai minyak curah. Yang penting ada barang buat jualan," ujarnya.

Kebutuhan minyak goreng untuk usaha ayam goreng tepung yang ia kelola tergolong besar setiap harinya. Faktor kepastian pasokan menjadi prioritas utama bagi Yatno, melampaui persoalan selisih harga yang tidak terlalu signifikan.

Sementara itu, pedagang ayam goreng lain di lokasi yang sama, Tri, bahkan mengaku sama sekali tidak mengetahui keberadaan MinyaKita. Selama menjalankan usahanya, ia hampir tidak pernah melihat produk minyak goreng subsidi tersebut di toko tempatnya kulakan bahan baku.

"Saya malah kurang tahu MinyaKita. Jarang lihat di toko," kata Tri.

Pedagang lainnya, Masno, menceritakan bahwa selama ini ia hanya membeli produk minyak goreng yang tersedia secara umum di pasar tanpa mencari merek tertentu secara khusus.

Meski begitu, ia menyatakan ketertarikannya untuk beralih menggunakan produk subsidi tersebut apabila harga jualnya terbukti jauh lebih murah di pasaran.

"Kalau memang lebih murah tentu mau beli. Buat pedagang kan lumayan bisa mengurangi biaya produksi," pungkasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi