Kelola Gaji Pertama dengan Lima Langkah Finansial Bijak Ini

Kelola Gaji Pertama dengan Lima Langkah Finansial Bijak Ini

Menerima penghasilan perdana menjadi momen yang membanggakan sekaligus membahagiakan setelah melewati masa studi atau pencarian kerja.

Dikutip dari Personalfinance, langkah finansial yang diambil pada awal karier akan membentuk kebiasaan serta arah keuangan seseorang di masa depan.

Oleh karena itu, pengelolaan penghasilan secara bijak perlu diterapkan sejak awal demi memberikan manfaat jangka panjang.

Menyiapkan dana darurat menjadi langkah awal yang penting, bukan sekadar menghabiskan pendapatan perdana untuk merayakan pencapaian.

Sanjeev Govila, seorang perencana keuangan bersertifikat, menjelaskan bahwa dana cadangan ini berfungsi layaknya pelindung dari situasi tidak terduga.

Sanjeev Govila menambahkan bahwa jumlah ideal dana darurat mencakup biaya hidup selama 6 hingga 12 bulan, bukan hanya sekadar pengganti nilai gaji.

Alokasi ini harus mencakup kebutuhan pokok seperti biaya sewa tempat tinggal, tagihan bulanan, cicilan, serta pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Ketersediaan dana ini memastikan adanya cadangan aman saat terjadi kondisi mendesak, seperti kehilangan pekerjaan atau masalah medis.

2. Memiliki Proteksi Asuransi

Asuransi harus dipandang sebagai pelindung finansial murni dan bukan sebagai instrumen untuk mencari keuntungan investasi.

Sanjeev Govila mengibaratkan asuransi sebagai pengawal keuangan tersamar yang sangat berharga ketika terjadi peristiwa tidak terduga.

Pekerja baru disarankan memulai dengan asuransi jiwa berjangka sebesar 10 hingga 15 kali pendapatan tahunan.

Selain itu, kepemilikan asuransi kesehatan dengan nilai perlindungan minimal Rp 100 juta juga sangat direkomendasikan.

Produk seperti ULIP atau endowment plan sebaiknya dihindari karena sering kali tidak efisien dan dapat membebani keuangan.

3. Memulai Investasi Sejak Usia Muda

Masa usia 20-an menjadi periode terbaik untuk memulai investasi karena faktor waktu menjadi aset terbesar yang dimiliki.

Penerapan strategi sederhana seperti rumus 50-30-20 dapat membantu pekerja dalam membagi porsi pendapatan secara seimbang.

Melalui formula tersebut, pendapatan dialokasikan sebesar 50 persen untuk kebutuhan pokok dan 30 persen demi keinginan pribadi.

Sementara itu, sisa 20 persen dari penghasilan digunakan secara khusus untuk membangun kekayaan.

Dari porsi khusus kekayaan tersebut, pekerja disarankan menaruh 70 persen pada reksa dana saham melalui Systematic Investment Plan (SIP).

Selanjutnya, sisa alokasi sebesar 30 persen dapat ditempatkan pada instrumen utang atau pasar uang.

4. Menerapkan Diversifikasi Aset

Prinsip membagi aset ke beberapa instrumen sangat penting dilakukan agar risiko keuangan tidak terpusat pada satu tempat.

Meski demikian, pembagian aset ini tidak boleh dilakukan secara berlebihan agar portofolio investasi tetap mudah dipantau.

Bagi pekerja muda, porsi penempatan modal di saham dapat dihitung menggunakan rumus 100 dikurangi usia saat ini.

Sebagai contoh, pekerja yang berusia 25 tahun sebaiknya mengalokasikan 75 persen portofolio ke saham dan 25 persen ke instrumen utang.

Peninjauan ulang terhadap portofolio ini perlu dilakukan setiap enam bulan demi menyesuaikan dengan target atau kondisi finansial terbaru.

5. Menghindari Kekeliruan Finansial

Pekerja baru sering melakukan kesalahan dengan membeli barang mewah secara cicilan atau menunda investasi hingga penghasilan bertambah besar.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menyimpan seluruh dana pada deposito berimbal hasil kecil yang rentan tergerus inflasi.

Sanjeev Govila menekankan pentingnya membangun konsistensi investasi sejak dini meskipun dimulai dengan nominal yang kecil.

Investasi rutin sebesar Rp 1.000.000 per bulan sejak usia 23 tahun dapat menghasilkan nilai lebih besar dibanding Rp 5.000.000 per bulan yang baru dimulai pada usia 30 tahun.

Artikel terkait

Rekomendasi