Kemendag Siapkan Barter dengan Filipina Guna Redam Efek Rupiah

Kemendag Siapkan Barter dengan Filipina Guna Redam Efek Rupiah

Kementerian Perdagangan membuka alternatif sistem barter komoditas dengan Filipina guna mengurangi gejolak perdagangan internasional akibat nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (4/6/2026).

Langkah penanganan dampak pelemahan mata uang ini diinisiasi oleh Pemerintah Indonesia setelah mengadakan pertemuan langsung dengan pihak pengusaha asal Filipina dalam gelaran ASEAN beberapa waktu lalu, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

"Jadi, waktu kemarin waktu acara ASEAN kami ketemu salah satu pengusaha dari Filipina. Dia impor barang kita selama ini, karena di Filipina kan juga nilai tukarnya kan juga lagi kurang bagus. Jadi, bagaimana kalau kita pakai cara barter," ujar Budi Santoso, Menteri Perdagangan.

Persiapan pembeli untuk menunjang skema perdagangan nontunai tersebut saat ini dipastikan telah siap, dan penandatanganan kontrak kerja sama dijadwalkan berlangsung pada pertengahan bulan ini.

"Nah, ini sudah kita carikan buyer-nya udah ketemu, nanti tanggal 12 kita akan tandatangan kontrak dengan buyer," jelas Budi Santoso, Menteri Perdagangan.

Meskipun penurunan nilai mata uang Garuda memicu kenaikan harga barang impor seperti suku cadang, kedelai, dan bahan baku pupuk, pasokan bahan pokok domestik diklaim masih aman.

"Dari importasi bahan baku itu kita monitor, kita terus komunikasi dengan para produsen jangan sampai itu pun terganggu gitu kan jangan sampai stok nggak ada," imbuh Budi Santoso, Menteri Perdagangan.

Otoritas perdagangan mencatat bahwa aktivitas ekspor nasional masih tumbuh sebesar 5,48 persen secara tahunan sehingga performa perdagangan internasional Indonesia dinilai tetap positif.

"Sebenarnya kita kondisinya masih bagus dengan kondisi sekarang ekspor kita tetap naik 5,48%," tambah Budi Santoso, Menteri Perdagangan.

Artikel terkait

Rekomendasi